RSS
Tampilkan postingan dengan label Gizi Kerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gizi Kerja. Tampilkan semua postingan

Penyelenggaraan Makanan Di Tempat Kerja

Tujuan:
        ”meningkatkan keadaan kesehatan dan gizi tenaga kerja, sehingga dapat meningkatkan pula efisiensi dan produktivitas kerja”.
Yang dimaksud dengan penyelenggaraan makanan adalah
        “semua proses, mulai dari merencanakan anggaran belanja sampai ke makanan di konsumsi oleh tenaga kerja”.

Dalam penyelenggaraan makanan untuk tenaga kerja ini perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
  1. Penyelenggaraan makanan.
  2. Petugas penyelenggara makanan.
  3. Sistem pelayanan makanan.
  4. Susunan menu dan nilai gizi makanan.
  5. Dapur dan ruang makan
  6. Hygiene dan sanitasi.

  1. Penyelenggaraan makanan.
         Penyelenggaraan makanan tenaga kerja dimaksudkan setiap usaha yang menyediakan dan memberikan makanan kepada tenaga kerja, baik dengan cara membeli maupun cuma-cuma.
         Penyelenggaraan makanan tenaga kerja itu ada dua kemungkinan yaitu :    
        diselenggarakan sendiri oleh perusahaan dimana tenaga kerja itu bekerja, atau
        diselenggarakan oleh perusahaan lain dengan cara kontrak atau sistem leveransir.
Perlu persyaratan-persyaratan, minimal sebagai berikut :
         Bonafiditas di bidang penyelenggaraan makanan.
         Punya dapur & perlengkapan dapur sendiri yg memenuhi syarat kesehatan lingkungan yg baik.
         Punya tenaga gizi untuk dpt memberikan pelayanan yg tepat serta pengawasan yg memadai terhadap nilai gizi makanan, kebersihan & kesehatan makanan yg diselenggarakan.
         Punya tenaga pelaksana, yg minimal harus mengerti hal2 yg berhubungan dgn kesehatan, kebersihan, dll, shg tidak mrpk sumber penular suatu penyakit via makanan.
         Bertanggung jawab thdp tugasnya & mau patuh pd segala perjanjian penyelenggaraan makanan.

  1. Petugas penyelenggara makanan.
Baik atau tidaknya mutu makanan yg diselenggarakan sangat tergantung dari tenaga penyelenggaranya.
Untuk dapat terjaminnya mutu makanan yg diselenggarakan maka bagi tenaga penyelenggara diperlukan persyaratan2 sbb :
  1. Harus senantiasa bebas dari segala macam penyakit menular à diperlukan pengujian kesehatan badan, baik pengujian kesehatan badan awal, berkala maupun khusus yg meliputi pemeriksaan fisik lengkap, X-ray dada & pemeriksaan laboratorium.
  2. Minimal mempunyai pengetahuan tentang kebersihan dan kesehatan, dan cara-cara mengelola bahan makanan.
  3. Tidak mempunyai kebiasaan buruk, spt:
        banyak bicara pd waktu menyediakan makanan,
        kalau batuk/bersin di depan makanan,
        suka meng-garuk2 bgn tubuh tertentu selama bekerja mengolah makanan,
        tidak bertanggung jawab terhadap tugasnya,
        pemabuk, dsb.
  1. Mempunyai disiplin kerja yg baik, terutama selama menyelenggarakan makanan, spt: memakai alat2 pelindung, misalnya topi, skort/celemek (pakaian kerja yg diperlukan), tidak merokok, dsb.

  1. Sistem pelayanan makanan.
Dilihat dari cara penyajiannya, maka sistem pelayanan itu dapat dibedakan atas :
    1. Kafetaria dimana tenaga kerja dapat memilih makanan yang disenangi dengan cara membeli dengan harga murah.
    2. Kantin dimana tenaga kerja mendapat makanan cuma-cuma.
    3. Dibagikan di tempat kerja.
    4. Dibagikan di lapangan tanpa tempat makan khusus.
Pelayanan makanan untuk TK di lapangan atau di tempat kerja yg terpencar2 dapat dilakukan pula dgn menggunakan unit mobil keliling.
Pelayanan makanan untuk TK di lapangan dilakukan karena tidak tersedianya ruang makan & fasilitas2 lainnya.
Maka untuk pelayanan makanan TK di lapangan, agar dapat dilaksanakan dengan baik, perlu dilakukan tindakan sebagai berikut :
         Pada waktu makan, semua kegiatan dihentikan.
         Menentukan t4 (areal) makan yg cukup memenuhi syarat kesehatan, bila mungkin dibuat tenda/bangunan darurat.  
         Paket makanan harus memenuhi syarat seperti besar porsi, mutu gizi, rasa & kebersihan.
         Menyediakan fasilitas cuci tangan yg cukup, sesuai dgn jumlah tenaga kerja yg akan makan.
         Menyediakan fasilitas makan walau dgn sederhana spt, meja & kursi makan, meja untuk membagi makanan dsb.
         Bila paket tsb berupa bungkusan dari daun, maka pembungkusan & penyiapan mknn hrs dmk rupa shg tetap memenuhi syarat2 pd waktu dikonsumsi o/ TK.
         Syarat2 lain, sesuai dgn anjuran pengawas kesker.

  1. Susunan menu dan nilai gizi makanan.
         Untuk mendapatkan menu yg baik, dapat diterima oleh TK yg akan dilayani, maka dalam menyusun menu perlu diperhatikan hal2 sbb:
        Makanan harus bervariasi setiap harinya shg tidak membosankan. Sebaiknya menu disusun untuk 10 hari dgn variasi yg menarik.  
        Zat2 makanan yg diperlukan harus senantiasa terkandung dgn lengkap & berimbang dalam menu yg disusun.
        Makanan harus menarik, mempunyai rasa yg baik & sesuai.
        Makanan yg disediakan harus td: bahan2 makanan yg biasa dimakan & bukan merupakan yg dipantangkan, baik karena adat kebiasaan maupun karena larangan agama.
        Dpt mencukupi kebutuhan kalori dgn porsi yg dapat dihabiskan.
        Makanan yg diselenggarakan di tempat kerja harus memenuhi syarat gizi, yaitu cukup karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Untuk menjamin tercukupinya kebutuhan zat-zat gizi tsb diatas maka makanan harus mempunyai nilai gizi yg berimbang.
Nilai gizi makanan yg berimbang dpt diperoleh dgn susunan menu yg berpedoman kepada 4 sehat yaitu terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayuran & buah-buahan.
Khusus untuk keadaan & tempat2 kerja tertentu (tambang-tambang, kerja malam, dsb) & yg bekerja dgn bahan2 yg berbahaya sebaiknya diberikan tambahan susu atau telur.
        Catatan : Susu tidak bersifat anti racun terhadap bahan-bahan kimia yang berbahaya, tetapi hanya dapat mempertinggi daya tahan tubuh.
         Susu adalah salah satu bahan makanan yg sangat baik karena disamping mengandung hampir semua zat2 gizi yg diperlukan tubuh, juga dpt dgn mudah diserap oleh alat pencernaan dalam tubuh.

  1. Dapur dan ruang makan
         Untuk dapat berjalannya fungsi dapur dengan baik, maka perlu diperhatikan beberapa hal antara lain :
Letak dapur.
         Yaitu tidak jauh dari ruang makan, tidak berhubungan langsung dgn tempat kerja yg lain, mudah untuk dibersihkan, mudah untuk menerima & membagi bahan makanan & makanan jadi.
Fasilitas dapur dan ruang makan.
         Dapur & ruang makan harus mempunyai fasilitas peralatan & saniter yg cukup seperti tempat cuci, tempat cuci tangan, tempat menyimpan makanan & alat2, tempat sampah dsb.
Keadaan/kondisi dapur & ruang makan harus :
         Mudah dibersihkan.
         Mempunyai penerangan yg cukup.
         Mempunyai ventilasi yg memadai.
         Tidak menyebarkan panas, bau, uap yg merangsang ke tempat2 lain.
         Lantai2nya tidak licin & terbuat dari bahan2 yg mudah dibersihkan.
         Mempunyai ruangan yg cukup luas shg memudahkan untuk bergerak bagi orang yg bekerja & menggunakannya.
         Untuk ruang makan, sesuai dgn standar kebutuhan ruangan.
         Harus bebas serangga & binatang mengerat.

  1. Hygiene dan sanitasi.
  • Cara2 penyelenggaraan & pelayanan makanan harus memenuhi syarat2 hygiene & sanitasi, untuk mencegah terjadinya pencemaran terhadap makanan, karena makanan yg tercemar itu sangat berbahaya bagi kesehatan konsumen.
  • Pencemaran itu dapat terjadi pd waktu pembelian, penyimpanan, pengolahan, pengangkutan, pembagian & konsumsi.
  • Oleh karena itu dalam tahap2 ini perlu diperhatikan faktor hygiene & sanitasi, yaitu antara lain pd :
    1. Pengolahan.
    2. Transportasi.
    3. Pembagian/distribusi.
    4. Konsumsi.

    1. Pengolahan.
        Pemilihan bahan mentah yg baik & segar.
        Pemisahan dalam mengerjakan bahan baku dgn bahan yg sudah dimasak.
        Makanan yg sudah dimasak, hindari sentuhan langsung dengan tangan.
        Alat-alat yg digunakan dalam pengolahan harus dijamin kebersihannya.
    1. Transportasi.
        Dalam keadaan tertutup atau bebas dari kontaminasi serangga & benda-benda yg kotor.
        Menggunakan alat-pengangkut yg baik & bersih.
    1. Pembagian/distribusi.
        Alat-alat yg digunakan harus bersih & baik.
        Cara membagikan harus sedemikian rupa shg terhindar dari kontaminasi dari serangga & barang/alat-alat yg kotor.
    1. Konsumsi.
         Sebelum makan, tenaga kerja harus dibiasakan :
1.      Cuci tangan sampai siku dgn air & sabun.
2.      Cuci muka & berkumur-kumur.
3.      Pakaian harus bebas dari debu/kotoran-kotoran lain yang berbahaya.

PEMBINAAN & PENGAWASAN

  1. Tujuan.
Pembinaan dan pengawasan bertujuan untuk menciptakan kontinuitas terhadap :
         Pelaksanaan norma dan peraturan perundangan yang ada hubungan dengan kesehatan tenaga kerja umumnya, dan gizi tenaga kerja pada khususnya.
         Pelaksanaan usaha perbaikan dan peningkatan gizi tenaga kerja.
         Evaluasi terhadap keadaan gizi tenaga kerja.



2. Pelaksana.
Pembinaan & pengawasan dilakukan oleh :
         Pengawas kesehatan kerja, terhadap hal-hal yg umumnya menyangkut aspek kesehatan tenaga kerja (pengawasan berkala).
         Tenaga yg ditunjuk oleh pengusaha, terhadap pelaksanaan pembinaan & peningkatan gizi tenaga kerja (pengawasan rutin).

3. Jenis Kegiatan.
Pembinaan & Pengawasan yg dilakukan ada 2 :
  1. Pembinaan & pengawasan rutin yg meliputi :
        Besar porsi, nilai gizi, rupa, rasa, kebersihan makanan yg diberikan kpd TK serta keluhan2 terhadap makanan yg diberikan
        Penyelenggara seperti kebiasaan2 buruk yg dpt mencemarkan makanan, keadaan kesehatan & hygiene perorangan.
        Tempat2 (dapur & ruang makan) & peralatan makan agar senantiasa dalam keadaan baik & bersih.
      B. Pembinaan & pengawasan berkala yg meliputi :
        Semua yg dilakukan dalam pengawasan rutin.
        Evaluasi tehadap perubahan makanan, keadaan kesehatan & gizi TK, antara lain pemeriksaan kesehatan badan berkala termasuk gizi, sikap TK terhadap penyelenggaraan makanan.

4. Sistim Pembinaan & Pengawasan.
         Sistem pembinaan  dan pengawasan dilakukan sesuai dengan hubungan skema berikut :

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Trace Element

Ini tugas gizi kerja teman saya hehehe boleh curi untuk d post :D
krna ketua kelas.y sahabat saya :D

BAB I. 
PENDAHULUAN

Dalam biokimia Trace Elemen  adalah suatu unsur kimia yang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan yang tepat, pengembangan, dan fisiologi organisme. Trace Elemen  juga dalam biokimia disebut sebagai Mikronutrien. Didalam bidang  ilmu gizi sejak tahun 1990 mulai dikenal istilah Micronutrien yang dalam bahasa indonesia disebut sebagai zat gizi mikro. Hal ini berhubungan dengan beberapa mineral yang terdapat pada jaringan, walaupun dalam jumlah yang sangat kecil, tetapi merupakan zat gizi yang esencial.
Zat gizi mikro merupakan suatu zat yang sangat penting yang memberikan tekanan pada pentingnya vitamin dan mineral termasuk Trace Element ( Unsur Kelimut )  sebagai suatu kesatuan zat gizi yang diperlukan dalam jumlah sangat sedikit yaitu < 100 mg/ hr. Walaupun telah dikatakan bahwa zat gizi mikro adalah suatu zat yang diperlukan oleh tubuh dalam jumlah yang seidikit, tetapi mempunyai fungsi yang sangat penting bagi tubuh. Adapun unsur tersebut memegang peranan penting untuk pemeliharaan kehidupan, pertumbuhan dan reproduksi. Beberapa fungsi unsur kelimut (mineral mikro) yaitu berhubungan dengan protein serta sisitim kekebalan adalah Seng (Zn), metabolisme glukosa adalah Khrom (Cr),  dan metabolisme struktur tulang  adalah Mangan (Mn) dan sebagaimana.
    Berdasar atas peran dan fungsi Trace element atau mineral mikro yang sangat bermanfaat pada tubuh sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya maka terdapat enam mineral mikro yang akan diuraikan yaitu : Besi (Fe), Iodium (I), Seng (Zn), Mangan (Mn), Khrom (Cl), dan Fluor(F)

 
BAB II

PEMBAHASAN



I.    Besi (Fe)

A.    Fungsi Besi (Fe)

 Besi merupakan mineral mikro yang paling banyak terdapat di dalam tubuh manusia yaitu sebanyak 3-5 gr di dalam  tubuh manusia dewasa. Besi mempunyai beberapa fungsi esensial di dalam tubuh yaitu : Sebagai alat angkut oksigen dari paru-paru kejaringan tubuh, sebagai alat angkut electron di dalam sel, dan sebagai bagian terpadu berbagai reaksi enzim di dalam jaringan tubuh. Selain itu besi berperan pula pada metabolisme energi walaupun terdapat luas di dalam makanan banyak penduduk dunia mengalami kekurangan besi, termasuk di Indonesia. Kekurangan  besi sejak tiga puluh tahun terakhir di akui berpengaruh terhadap produktifitas kerja, penampilan kognitif, dan sistim kekebalan.



B.     Sumber Besi (Fe)

Sumber besi adalah makanan hewani seperti daging, ayam, dan ikan. Sumber baik lainya adalah telur, serealia tumbuk, kacang-kacangan, sayuran hijau, dan beberapa jenis buah. Disamping jumlah besi perlu diperhatikan pula kualitas besi di dalam makanan atau yang disebut juga ketersediaan biologig (bioavailability). Pada umumnya  besi di dalam daging, ayam dan ikan mempunyai ketersediaan biologik tinggi, besi didalam serealia dan kacang-kacangan mempunyai ketersediaan biologik sedang, dan besi didalam sebagian besar sayuran terutama yang mengandung asam oksalat tinggi seperti bayam mempunyai ketersediaan biologik rendah.

C.    Akibat Kekurangan Besi (Fe)

Defisiensi besi terutama menyerang golongan rentan seperti anak-anak, remaja, ibu hamil, dan menyusui serta pekerja berpenghasilan rendah.

Kekurangan besi terjadi dalam tiga tahap. Tahap pertama terjadi bila simpanan besi berkurang yang terlihat pada penurunan feritin dalam plasma hingga 12 ug/L. hal ini dikompenasi dengan peningkatan absorpsi besi yang terlihat dari peningkatan kemampuan mengikat besi total. Pada tahap ini belum terlihat perubahan fungsional pada tubuh. Tahap kedua terlihat dengan habisnya simpanan besi, menurunya jenuh transferin hingga kurang dari 16 % pada orang dewasa dan meningkatnya protoporfirin, yaitu bentuk pendahulu (prekursor) hem. Pada tahap ini nilai hemoglobin di dalam darah masih berada pada 95% nlai normal. Hal ini dapat menganggu metabolisme energy, sehingga menyebabkan menurunnya kemampuan bekerja. Pada tahap ketiga terjadi anemia gizi besi, dimana kadar hemoglobin total turun dibawah nilai normal.

Kekurangan besi pada umumnya menyebabkan pucat, rasa lemah, letih, pusing, kurang nafsu makan, menurunya kebugaran tubuh, menurunya kemampuan kerja, menurunya kekebalan tubuh dan gangguan penyembuhan luka. Disamping itu kemampuan mengatur suhu tubuh menurun. Pada anak-anak kekurang besi menimbulkan apatis, mudah tersinggung., menurunya kemampuan untuk berkonsentrasi dan belajar.


D.    Akibat Kelebihan  Besi (Fe)

Kelebihan besi jarang terjadi karena makanan, tetapi dapat disebabkan oleh suplemen besi. Gejalanya adalah rasa muntah, diare, denyut jantung meningkat, sakit kepala, mengigau dan pingsang.



E.     Absorpsi, Transportasi dan Penyimpanan Besi

Sebeleum diabsorpsi pada lambung Fe dibebaskan dari ikatan organic seperti protein. Sebagian besar besi dalam bentuk feri direduksi menjadi bentuk fero. Hal ini terjadi dalam suasana asam didalam lambung dengan adanya HCL dan Vitamin C.

Absorpsi terjadi pada duodenum dengan bantuan alat angkut protein khusus. Terdapat 2 jenis alat angkut protein di sel mukosa usus halus yang membantu penyerapan Fe yaitu Transferin dan Feritin.

Transferin adalah protein yang disintesis di dalam hati terdapat dalam dua bentuk. (1) Tranferi mukosa mengangkut besi dari saluran cerna kedalam sel mukosa dan memindahkannya ke Transferin reseptor, yang terdapat pada sel mukosa. Transferi mukosa kemabali kerongga saluran cerna untuk mengikat besi lain. (2) Transferin reseptor  mengangkut besi melalui darah kesemua jaringan tubuh.

Besi dalam makanan terdapat dalam bentuk besi hem seperti terdapat dalam hemoglobin dan mioglobin makanan hewani, dan bei non hem dalam makanan nabati.

Besi hem diabsorpsi kedalam sel mukosa sebagai kompleksporfirin utuh. Cincin porfirin didalam sel mukosa kemudian dipecah oleh enzim khusus (homoksigenase) dan besi dibebaskan. Besi hem dan non hem kemudian melewati alur yang sama dan meninggalkan sel mukosa dalam bentuk yang sama dengan alat angkut yang sama. Besi hem hanya merupakan bagian kecil dari besi yang diperoleh dari makanan (kurang lebih 5%) dari besi total makanan) namun yang dapat diabsorpsi dapat mencapai 25% sedangkan non hem hanya 5%.

Sebagian besar transferin membawa besi ke sum sum tulang dan bagian tubuh lain. Didalam sum sum tulang besi digunakan untuk membuat hemoglobin yang merupakan bagian dari sel darah merah. Kelebihan konsumsi besi yang mencapai 200 mg/hr hingga 1500 mg disimpan sebagai feritin dan homosiderin di dalam hati (30%), sum-sum tulang belakang (30%), dan selebihnya didalam lifa dan otot.



II.          Iodium (I)

A.    Fungsi Iodium (I)

Iodium ada didalam tubuh dalam jumlah sangat sedikit, yaitu sebanyak kurang lebih 0,00004% dari berat badan atau 15-23 mg. Sekitar 75% dari iodium ini adalah di dalm kelenjar tiroid yang digunakan untuk mensintesis hormone tiroksin, tetraiodotironin (T4) dan triiodotironin (T3). Hormon-hormon ini diperlukan untuk pertumbuhan normal, perkembangan fisik dan mental manusia. Sisa iodium ada di dalam jaringan lain, terutama di dalam kelenjar-kelenjar ludah, payudara, dan lambung serta di dalam ginjal. Di dalam darah iodium terdapat dalam bentuk iodium bebas atau terikat dengan protein (Protein-Bound Iodiner/PBI.  Iodium merupakan bagian integral dari kedua macam hormon tiroksin triiodotironin (T3) dan tetraiodotironin (T4). Fungsi utama hormon ini adalah mengatur pertumbuhan dan perkembangan. Hormon tiroid mengontrol kecepatan tiap sel menggunakan oksigen. Dengan demikian hormon tiroid mengontrol kecepatan pelepasan energi dari zar gizi yang menghasilkan energyi. Tiroksin dapat merangsang metabolisme sampai 30%. Disamping itu kedua hormoni itu mengatur suhu tubuh, reproduksi, pembentukan sel darah merah serta fungsi otot dan saraf. Iodium berpera pula dala perubahan karotin menjadi bentuk aktif vitamin A, Sintesis protein, dan absorpsi karbihidrat dari saluran cerna. Iodium berperan pula dalam sintesis kolesterol darah.



B.     Sumber Iodium (I)

Lauk merupakan sumber utama iodium. Oleh karena itu, makanan lauk berupa ikan, udang dan kerang serta ganggang laut merupakan sumber iodium yang baik. Di daerah pantai, air dan tanah mengandung banyak iodium sehingga tanaman yang tumbuh di daerah pantai mengandung cukup banyak iodium. Semakin jauh tanah itu dari pantai semakin sedikit pula kandunga iodiumnya, sehingga tanaman yang tumbuh di daerah tersebut termasuk rumput yang dimakan hewan sedikit sekali atau tidak mengandung iodium. Salah satu cara penanggulangan kekurangan iodium ialah melalui fortifikasi garam dapur dengan iodium.



C.    Akibat Kekurangan Iodium (I)

Pada kekurangan iodium, konsentrasi hormon tiroid menurun dan hormon perangsang tiroid/TSH meningkat agar kelenjar tiroid mampu menyerap lebih banyak iodium. Bila kekurangan berlanjut, sel kelenjar tiroid membesar dalam usaha peningkatan pengambilan iodium oleh kelenjar tersebut. Bila pembesaran ini menampak dinamakan gondok sederhana. Bila terdapat secara meluas disuatu daerah dinamakan gondok endemic. Gondok menampakan diri dalam bentuk gejala yang sangat luas, yaitu dalam bentuk kretinisme (cebol) di satu sisi dan pembesaran kelenjar tiroid pada posisi lain. Gejala kekurangan iodium adalah malas dan lamban, kelenjar tiroid membesar, pada ibu hamil dapat menganggu pertumbuhan dan perkembangan janin, dan dalam keadaan berat bayi lahir dalam keadaan cacat mental yang permanen serta hambatan pertumbuhan yang dikenal sebagai kretinisme. Seorang anak yang mendrita kretinisme mempunyai bentuk tubuh abnormal dan IQ sekitar 20. Kekurangan iodium pada anak-anak menyebabkan kemapuan belajar yang rendah.



D.    Akibat Kelebihan Iodium (I)

Suplemen iodium dalam dosis terlalu tinggi dapat menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid, seperti halnnya kekurangan iodium. Dalam keadaan berat hal ini dapat menutup jalan pernapasan sehingga menimbulkan sesak napas.



E.     Absoprsi dan Ekskresi

Iodium dengan mudah diserap dalam bentuk Iodida, konsumsi normal sehari adalah 100-150 µg sehari. Didalam darah iodium terdapat dalam bentuk bebas dan terikat dengan protein. Manusia dewasa sehat mengandung 15-20 mg iodium 70-80% diantaranya berada dalam kelenjar tiroid. Didalam kelenjar tiroid iodium digunakan untuk mensintesis hormone-hormon triiodotironin (T3) dan tiroksin atau tetra iodotironin (T4). Penagkapan iodide oleh kelenjar tiroid dilakukan melalui transfer aktif yang dinamakan pompa natrium. Mekaninsme ini diatur oleh hormone yang merangsang tiroid (Tiroid Stimulating Hormon/TSH dan hormone Tirotforin/TRH) yang dirangsang oleh hipotalamus pada kelenjar pituitari untuk mengatur sekresi tiroid. Kelebihan iodium terutam dikeluarkan melaui urin, dan sedikit melalui feses.
III.       Seng (Zn)

A.    Fungsi Seng (Zn)

Seng berperan sebagai bagian dari enzim atau sebagai kofaktor, seng bereperan dalam berbagai aspek metabolisme seperti reaksi-reaksi yang berkaitan dengan sintesis dan degradasi karbohidrat, protein, lipida dan asam nukleat. Seng berperan dalam pemeliharaan keseimbangan asam basa dengan cara membantu mengeluarkan karbon dioksida dari paru-paru. pada pernapasan Seng sebagai bagian integral enzim DNA polimerase dan RNA polimerase yang diperlukan dalam sintesis DNA dan RNA. Seng berperan pula dalam sintesis dan degradasi kolagen. Seng juga berperan dalam pengembangan fungsi reproduksi laki-laki dan pembentukan sperma, Seng diperlukan untuk sintesis alat angkut vitamin A. Seng berperan dalam fungsi kekebalan, yaitu dalam fungsi sel T dan dalam pembentukan antibody oleh sel B. Seng tampaknya pula berperan dalam metabolisme tulang, transport oksigen, dan pemunahan radikal bebas, pembentukan struktur dan fungsi membran serta proses pengumpalan darah.



B.     Sumber Seng (Zn)

Sumber paling baik adalah sumber protein hewani, terutama daging, hati, kerang, dan telur. Serealia tumbuk dan kacang-kacangan juga merupakan sumber yang baik, namun mempunyai ketersediaan biologic yang rendah.



C.    Akibat Kekurangan Seng (Zn)

Kekurangan seng pertama dilaporkan pada tahun 1960-an, yaitu pada anak dan remaja laki-laki di mesir, iran, dan turki dengan karakteristik tubuh pendek, dan keterlambatan pematangan seksual. Defisiensi seng dapat terjadi pada golongan rentan, yaitu anak-anak, ibu hamil, dan menyusui serta orang tua. Tanda –tanda kekurangan seng adalah gangguan pertumbuhan dan kematangan seksual. Fungsi pencernaan terganggu, gangguan fungsi pangkreas, gangguan pembentukan kilomikron, dan kerusakan permukaan saluran cerna. Disamping itu dapat terjadi diare dan gangguan fungsi kekebalan. Kekurangan seng kronis menganggu pusat sitim saraf dan fungsi otak. Kekurangan seng dapat menganggu metabolisme vitamin A, kekurangan seng juga menganggu fungsi kelenjar tiroid dan laju metabolisme, gangguan nafsu makan, penurunan ketajaman indra rasa serta memperlambat penyembuhan luka.



D.    Akibat Kelebihan seng (Zn)

Kelebihan seng hingga dua sampai tiga kali AKG menurunkan absorpsi tembaga. Kelebihan sampai sepuluh kali AKG mempengaruhi metabolism kolesterol, mengubah nilai lipoprotein, dan tampaknya dapat mempercepat timbulnya aterosklerosis. Dosis sebanyak 2 gram atau lebih dapat menyebabkan muntah, diare, demam, kelelahan yang sangat, anemia, dan gangguan reproduksi. Suplemen seng bias menyebabkan keracunan, begitupun makanan yang asan dan disimpan di dalam kaleng yang dilapisi seng.



E.     Absorpsi dan Ekskresi seng (Zn)

Absorpsi dan metabolism seng menyerupai absorpsi dan metabolism besi. Seng diangkut oleh albumin dan transferin dan masuk kedalam aliran darah dan dibawa ke hati. Kelebihan akan disimpan dihati dlam bentuk metalotionenin. Lainya dibawa kepangkreas dan jaringan tubuh lain. Dipangkreas seng digunakan untuk membuat enzim pencernaan yang pada waktu makan dikeluarkan kedalam saluran cerna. Sirkulasi seng didalam tubuh dari pangkreas kesaluran cerna dan kembali ke pangkreas dinamakan sirkulasi enteropangkreatik.

Seng dikeluarkan tubuhterutama melaui feses. Disamping itu seng dikeluarkan melalui urin, dan jaringan tubuh yang dibuang, seperti jaringan kulit, sel dinding usus, cairan haid dan mani.
IV.       Mangan (Mn)

A.    Fungsi Mangan (Mn)

Mangan tampaknya berperan sebagai kofaktor berbagai enzim yang membantu bermacam proses metabolisme. Beberapa bentuk enzim tersebut adalah glutamin sintetase, superoksida dismutase di dalam mitokondria dan piruvat karboksilase yang berperan dalam metabolisme karbohidrat dan lipida. Enzim-enzim lain yang berkaitan dengan mangan juga berperan dalam sintesis ureum, pembentukan jaringan ikat dan tulang serta pencegahan peroksidasi lipida oleh radikal bebas.



B.     Sumber Mangan (Mn)

Mangan terdapat banyak dalam bahan makanan nabati, sumber mangan yang baik adalah teh kering, instant coffee, tepung coklat, sambal pecel, nenas kalengan, serta roti dan gandum.



C.    Akibat Kekurangan Mangan (Mn)

Kekurangan mangan belum pernah terlihat pada manusia



D.    Akibat Kelebihan Mangan (Mn)

Keracunan karena kelebihan mangan dapat terjadi bila lingkungan terkontaminasi oleh mangan. Pekerja tambang yang mengisap mangan yan ada pada debu tambang untuk jangka waktu lama, menunjukan gejala-gejala kelainan otak disertai penampilan dan tingkah laku abnormal.



E.     Absorpsi dan Ekskresi Mangan

Mekanisme absorpsi mangan hingga sekarang belum diketahui dengan pasti. Fe dan Kalsium dapat menghambat absorpsi mangan. Mangan diangkut oleh protein transmanganin dalam plasma. Setelah diabsorpsi mangan dalam waktu singkat terlihat dalam empedu dan dikeluarkanndengan feses.

V.          Khrom (Cr)

A.    Fungsi Khrom (Cr)

Khrom dibutuhkan dalam metabolism karbohidrat dan lipida. Krom bekerja sama dengan insulin dalam memudahkan masuknya glukosa ke dalam sel-sel. Krom diduga merupakan bagian dari ikatan organic factor toleransi glukosa bersama asam nikotinat dan glutation

B.     Sumber Khrom (Cr)

Sumber krom terbaik adalah makanan nabati. Kandungan krom dalam tanaman bergantung pada jenis tanaman, kandungan krom tanah dan musim. Sayuran mengandung 30 hingga 50 ppm, biji-bijian dan seralia utuh 30 hingga 70 ppm, dan buah 20 ppm. Hasil laut dan daging juga merupakan sumber krom yang baik.



C.    Akibat Kekurangan Khrom (Cr)

Kekurangan krom karena makanan jarang terjadi, oleh karena itu AKG untuk krom belum ditentukan.



D.    Akibat Kelebihan Khrom (Cr)

 Krom tinggi dikaitkan dengan kejadian penyakit hati dan kangker paru-paru. Kelebihan krom karena makanan belum pernah ditemukan. Pekerja yang terkena limbah industri dan cat yang mengandun



E.     Absopsi dan Ekkresi Krom

Krom dalam bentuk Cr+++ diabsorpsi sebanyak 10% hingga 25%. Bentuk lain krom hanya diabsorpsi sebanyak 1%. Mekanisme absorpsi belum diketahui dengan pasti. Absorpsi dibantu oleh asam-asam amino yang mencegah krom mengendap dalam media alkali usus halus. Seperti halya besi krom diangkut oleh trasferin. Jika tingkat kejenuhan trasferin tinggi krom dapat diangkut oleh albumin. Krom disekresi melalui urin.
VI.       Fluor (F)

A.    Fungsi Fluor (F)

Fluor dianggap zat gizi esensial karena peranannya dalam mineralisasi tulang dan pengerasan email gigi.

B.     Sumber Fluor (F)

Makanan sehari-hari mengandung fluor, namun sumber utama adalah air minum. Konsumsi fluor yang diangap cukup dan aman adalah 1,5-4,0 mg/sehari.

C.    Akibat Kekurangan Fluor (F)

Kekeurangan fluor terjadi di daerah di mana air minum kurang mengandung fluor. Akibatnya adalah kerusakan gigi dan keropos tulang pada orang tua.

D.    Akibat Kelebihan Fluor (F)

Kelebihan fluor dapat menyebabkan keracunan. Hal ini baru terjadi pada dosis sangat tinggi atau setelah bertahun-tahun mengunakan suplemen fluor sebanyak 20-80 mg sehari. Gejalanya adalah fluorosis (perubahan warna gigi menjadi kekuningan), mulas, diare, sakit di daerah dada, gatal dan muntah.


BAB III

PENUTUP



Secara keseluruhan Trace Element atau yang biasa disebut mineral mikro dapat disimpulkan merupakan :

1.      Bagian dari tubuh dan memegang peranan penting dalam pemeliharaan fungsi tubuh, baik pada tingkat sel, jaringan, organ, maupun fungsi tubuh secara keseluruhan

2.      Selain itu berperan pula dalam berbagai tahap metabolisme, terutama sebagai kofaktor dalam aktifitas enzim-enzim

3.      Mengatur pekerjaan enzim-enzim, pemeliharaan keseimbangan asam- basa, membantu trasfer ikatan-ikatan penting melalui membran sel dan pemeliharaan kepekaan otot dan syaraf terhadap rangsangan.


DAFTAR PUSTAKA


Sunita Almatsier, 2004, Prinsip Dasar Ilmu Gizi.  PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta



Prof.Dr.Ir. Deddy Muchtadi, MS, 2008,  Pengantar Ilmu Gizi , Alfabeta, Bandung



Drs Kus Irianto, 2004,  Gizi dan Pola Hidup Sehat. CV. Yrama Widya, Bandung





___________, 1996, Trace Element,  http://en.wikipedia.org/wiki/trace element.Diakses Tanggal 15 September 2011.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS