RSS
Tampilkan postingan dengan label GIZI KESMAS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GIZI KESMAS. Tampilkan semua postingan

Penjelasan Cara Menghitung Nilai Z-Score

Postingan ini sekedar menjelaskan kembali postingan sebelumnya tentang Z-Score . Darimana nilai-nilai didapatkan . Ini......

Pertama saya berikan contoh dulu ..


Tanggal lahir           : 07 Juli 2009
Umur                     : 37 bulan
Berat badan            : 8,5 kg
Nilai median           : 14,3 kg
Ket.(nilai riil < nilai median), sehingga:
z-score (BB/U)       : nilai riil – nilai median
                              __________________
                              nilai median – (-1 SD)
                               : (8,5 – 14,3) kg
                                 ______________
                                 (14,3 – 12,8) kg
                               : -3,9 SD

Keterangan : Nilai Riil itu berat badan sebenarnya (aktual)
                  Nilai median itu diambil dari nilai pada Tabel Baku Rujukan WHO-NCHS (bisa dilihat pada halaman lampiran buku Penilaian Status Gizi (I Dewa Nyoman Supariasa, Bachyar Bakri, Ibnu Fajar).
                     Nilai (-1 SD) itu juga dapat dilihat pada tabel WHO-NCHS 

-- Jika nilai riil lebih kecil daripada nilai median berarti yang digunakan sebagai pembagi adalah nilai -1 SD
-- Jika nilai riil lebih besar daripada nilai median berarti yang digunakan sebagai pembagi adalah nilai +1 SD

Tabel Baku Rujukan WHO-NCHS ada yang berdasarkan TB/U (status stunting), BB/U (status gizi), BB/TB (kurus atau gemuk). Tabel ini dipisahkan antara tabel untuk standar anak laki-laki dan anak perempuan jadi jangan lupa diperhatikan judul tabelnya sebelum menentukan nilai median dan nilai SD.
Tabel ini dapat digunakan untuk anak dari umur 0 bulan sampai 18 tahun 

Sekiaaaaan .....!!!!! semoga mengerti 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Antropologi Sosial (Kasus Bayi Gizi Buruk Meninggal)

Baca sajalah..


KASUS
BAYI GIZI BURUK MENINGGAL
            Watampone—Bayi asal kelurahan Bukaka, Kecamatan Tanette Riattang, Bone, Rita, tujuh bulan, penderita gizi buruk akhirnya meninggal, Minggu 18 Oktober pukul 19.00 Wita. Bungsu dari pasangan Aras, 27 tahun dan Ayu, 26 tahun itu menghembuskan nafas terakhirnya setelah sempat mendapatkan perawatan selama tiga hari di RSUD Tenriawaru.
            Ayu, Ibu Rita di bukaka mengaku sempat sedikit gembira melihat kondisi anaknya yang mulai membaik sejak ditangani dokter spesialis anak di RSUD Tenriawaru. “Setalah dirawat, kondisinya kelihatan mulai membaik. Badannya juga seperti sudah ada isi. Tapi jelang magrib, Minggu Rita tiba-tiba menangis terus. Setelah itu, badannya mulai tampak berubah. Matanya membengkak,” jelasya.
            Rita merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Aras, ayahnya berprofesi sebagai buruh lepas di pabrik batu bata setelah sempat mengadu nasib sebagai tenaga kerja di Malaysia.
            Lurah Bukaka, Nasrul mengatakan, keluarga Aras kerap berpindah-pindah sehingga sulit terdata di kelurahan. “Masalahnya, selain kurang mampu secara ekonomi, kepala keluarga juga kurang pergaulan dan cenderung mengurung diri sehingga tetangga dan keluarganya tidak tahu kalau Rita busung lapar,” ujarnya seraya menambahkan keluarga itu kerap pergi ke Maccope, Kecamatan Awangpone, terutama ketika terjadi masalah antar suami istri.
            Kematian Rita memunculkan keprihatinan pemerintahan kecamatan Tanete Riattang. Saat dikebumikan pukul 10.00 Wita, Senin 19 Oktober, camat Tanete Riattang, Promal Pawi, juga hadir di pemakaman.
            Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Bone, Hj. Ny. Warnawati Idris Galigo yang sebelumnya berencana menjenguk bayi gizi buruk di rumah sakit terpaksa membatalkan. Meski demikian, anggota DPRD Bone, Irwandy ikut menyerahkan santunan duka ke keluarga. Anggota fraksi PAN sebelumnya juga berjanji menanggung biaya pengobatan Rita hingga pulih.
            Di tempat terpisah, Humas RSUD Tenriawaru Bone, dr. Kadir S yang dikonfirmasi mengaku belum mendapatkan informasi lengkap tentang kematian bayi gizi buruk asal Bukaka tersebut.
            Namun dia memastikan upaya pengobatan sudah maksimal. Namun usaha terkendala dengan lambatnya Rita bibawa ke rumah sakit. “Seharusnya, masyarakat sekitar, baik tetangga maupun keluarganya tidak terlambat melaporkan kasus gizi buruk ke rumah sakit atau puskesmas. Sekarang kan, pengobatan sudah gratis. Jangan lagi karena ketidaktahuan sehingga takut memanfaatkan sarana rumah sakit,” sarannya.
            Keprihatinan tidak hanya Camat tanete Riattang. Bupati Bone, HA Muh Idris Galigo juga merasakan. Ditemui di kantornya, bupati mengharapkan kejadian Rita tersebut tidak terulangi lagi pada masa mendatang.
            Menurut Bupati, salah satu program pembangunan Pemkab Bone yakni memfokuskan pada masalah kesehatan. Karena itu, pelayanan kesehatan diminta selalu didahulukan daripada administrasi.
            “Kami berterima kasih jika pelayanan kesehatan dikritik. Mamang masih ada pegawai yang bekerja iseng dan tidak professional. Tak bisa dipungkiri itu,” tandas Idris Galigo. Meski demikian lanjut mantan jaksa tersebut, tak bisa dikaitkan gizi buruk dengan kekurangan makanan. Bisa saja gizi buruk disebabkan gangguan fungsi organ tubuh.    

Pendekatan Dalam Penelaan Kajian Antropologi.
Pendekatan Secara Holistik. Mencakup beberapa dimensi manusia yaitu biologis, psikologis, sosial, budaya, dan ekonomi.
Dimensi Biologis : Dari kasus diatas, dapat dilihat beberapa dimensi biologis yang mencakup di dalamnya. Salah satunya adalah keadaan yang juga ada hubungannya dengan kekebalan fisik dari si anak. Dalam hal ini, Rita yang meninggal dunia karena dilansir kekurangan gizi. Tidak dapat dipungkiri bahwa pengaruh gen atau bawaan dari orang tua sang anak juga sangat berpengaruh. Dari beberapa wawancara selanjutnya, orang tua dari anak gizi buruk ini memang memiliki pertahanan tubuh yang lemah. Atau secara ilmu kedokteran dikatakan bahwa orang tua ini mewariskan sifat yang lemah tersebut kepada anaknya. Sehingga bayi berusia tujuh bulan ini juga kurang mampu dalam mempertahankan kondisi tubuh yang maksimal.

Dimensi Psikologis : Kalau dilihat melalui pendekatan psikologis, masalah ini menyangkut tentang bagaimana pandangan orang tua sang bayi terhadap pentingnya kesehatan akan anak mereka. Kalau dilihat dari kejadian seperti ini sepertinya sang orang tua kurang memahami akan apa yang dimaksud dengan management diri dalam ilmu psikologi. Mereka tidak mengetahui apa yang harus mereka dahulukan ketika berada dalam himpitan kemiskinan dan anaknya sakit. Jadi salah satunya harus dikorbankan. Jika orang tua ini mengerti akan pentingnya pengendalian diri dalam membesarkan anak dan dalam menghadapi kerasnya kehidupan, maka kejadian seperti ini tidak akan mungkin terjadi. 

Dimensi Sosial : Melihat hubungan sosial yang dijalin oleh orang tua si bayi juga sepertinya kurang baik. Kita telaah saja. Orang-orang bahkan tetangga-tetangga mereka pun tidak mengetahui bahwa Rita, anaknya, mengalami kekurangan gizi atau gizi buruk. Dari hal-hal yang sekecil itulah yang dapat mengakibatkan kejadian buruk seperti kematian Rita ini. Orang tuanya kurang pergaulan dan lebih menutup diri sehingga orang lain juga merasa enggan untuk menyapa mereka atau sampai pada memberikan pertolongan. Sebenarnya itu tidak harus terjadi karena bagaimanapun manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan bantuan serta dorongan dari orang lain.

Dimensi Budaya : Dari kasus seperti diatas, kebudayaan yang dianut juga sangatlah berpengaruh. Kebiasaan orang tua si bayi yang tidak pernah memberikan makanan yang cukup mengandung gizi kepada anak-anak mereka sehingga terjadilah kasus gizi buruk seperti itu. Sebenarnya bukan terletak pada masalah kebiasaan saja, tetapi juga menyebar pada pola pikir orang tua. Mungkin mereka berpikir buat apa memberikan makanan yang bergizi sementara keadaan keuangan mereka tidak membaik malah memburuk. Hal dan pemikiran seperti itulah yang dapat memacu suatu kebiasaan yang tidak baik seperti mendoktrin diri sendiri untuk tidak memberikan makanan bergizi.

Dimensi Ekonomi : Kalau dari dimensi ekonomi, masalah ini sudah sangat jelas. Keadaan ekonomi keluarga yang bersangkutan sungguh sangat tidak memungkinkan untuk pemberian asupan makanan bergizi bagi anak mereka. Jadi kalau dilihat secara ekonomi, orang tua dari Rita tidak dapat disalahkan sepenuhnya karena ada faktor X dan Y seperti ekonomi yang menyebabkan kelalaian kasus ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Patofisiologi Osteoporosis


BAB I
PENDAHULUAN 
            Proses menua merupakan suatu proses normal yang ditandai dengan perubahab secara progresif dalam proses biokimia, sehinga terjadi kelainan atau perubahan stuktur dan fungsi jaringan, sel, dan nono sel(Widjayakusumah 19920. Berbagai perubahan fisik dan psikososial akan terjadi sebagai akibat proses menua. Terjadinya perubahan pada semua orang yang mencapai usia tua yang tidak disebabkan oleh proses penyakit, menyebabkan kenapa penderita geriatric berbeda dengan populasi lain (Brocklehurst and Allen, 1987) Banyak perubahan fisiologi yang mempengaruhi status gizi pada proses penuaan diantaranya adalah penurunan kecepatan basal metabolic range (BMR) sekitar 2% decade setelah 30 tahun. Penurunan sekresi asam klorida  dan asam empedu yang berpotensi untuk mengganggu penyerapan kalsium, zat besi, seng protein,, lemak dan vitamin yang larut dalam penyerapan lemak. (Moore, 1997)
            Ada beberapa faktor risiko osteoporosis daiantaranya genetic, jenis kelamin dan masalah kesehatan kronis, defisiensi hormone, kurang olah raga, serta rendahnya asupan kalsium, Bila dalam suatu keluarga mempunyai riwayat osteoporosis maka kemungkinan peluang anak mengalami hal yang sama adalah 60-80%. Dilihat dari jenis kelamin 80% wanita mengidap osteoporosis. Risiko osteoporosis juga akan meningkat apabila mengidap penyakit kronis. Sedangkan hubunga antara perempuan osteoporosis karena menaupose akibat penurunan hormone esterogen , (Siswono, 2003)
            Disamping asupan kalsium, ada beberapa zat gizi lainnya yang terkait dengan kejadian osteoporosis pada wanita usia lanjut, asupan vitamin D, asupan Fosfor, kalium, protein dan magnesium. Hasil penelitian Macdonald, 2004 mendapatkan bahwa asupan lemak tidak jenuh ganda (PUFA). Masuka sayur dan buah yang tinggi juga dapat bersifat melindungi. Penelitian lain menyebutkan bahwa total asupan protein hewani dapat  memperbasar risiko patah tulang pinggul pada wanita post menaupose (Munger,1999). 

BAB II
DEFENISI OSTEOPOROSIS
            Osteoporosis atau dikenal sebagai tulang keropos atau kopong. Pada osteoporosis massa yang membentuk tulang sudah berkurang, sehingga tulang dapat dikatakan kopong. Struktur pengisi tulang antara lain berupa senyawa-senyawa kolagen disamping juga kalsium, berfungsi bagaikan semen cor-an nya tulang. Ketika massa ini menjadi berkurang maka tulang menjadi kurang padat sehingga tak kuat menahan benturan ringan sekalipun yang mengenainya, resikonya patah tulang gampang terjadi. .
Di luar dari mudahnya tulang yang keropos itu mengalami fraktur, tulang yang keropos hampir tak bergejala sama sekali, silent disease. Jadi Keduanya memang dekat dengan wanita usia post menopause dikarenakan proses metabolisme di tulang memang membutuhkan pengaruh dari hormone estrogen yang lazimnya menurun saat wanita post menopause. Selain itu OA (pengapuran) sendi dipicu pula dengan berbagai trauma menahun pada sendi tersebut seperti misalnya over use saat olahraga (misalnya banyak menimpa para pesenam) maupun jenis trauma minor sekalipun seperti sering nyeletek-nyeletekin jari. Trauma menahun pada sendi akan membuat rawannya mudah aus akibatnya akan terjadi penumpukan kalsium disana (osteofit).
            Osteoporosis selain bergantung pada fungsi hormone estrogen juga ditengarai berkaitan dengan stok kalsium yang kurang pada tubuh, misalnya jarang minum susu. Namun yang penting untuk diketahui, puncak massa tulang kita sudah menurun saat kita mulai masuk usia kepala tiga, artinya kita harus sudah memulai menimbun kalsium sejak kita usia pertengahan untuk menjamin saat tua nanti tulang kita masih cukup padat.
Jadi apabila sudah mengalami osteoporosis dan baru memulai minum suplemen tinggi kalsium maupun susu tinggi kalsium, hal tersebut tidak akan banyak faedahnya. Selain pada susu, kalsium yang tinggi juga dapat dijumpai pada ikan-ikan kecil seperti ikan teri. Kalsium dari alamiah memang lebih dianjurkan, sementara suplemen kalsium dosis tinggi dapat menimbulkan beberapa masalah seperti terbentuknya batu saluran kemih serta adanya isu peningkatan risiko stroke dan serangan jantung yang menyertai para wanita usia lanjut yang mengkonsumsi suplemen kalsium secara rutin (sesuai laporan research di Auckland, New Zealand baru-baru ini).
            Menurut definisi, osteoporosis adalah penyakit yang dicirikan oleh rendahnya massa tulang dan kemunduran struktural jaringan tulang, yang menyebabkan kerapuhan tulang. Bila tidak dicegah atau bila tidak ditangani, proses pengeroposan akan terus berlanjut sampai tulang menjadi patah dan penderitanya mengalami kesakitan dalam melakukan pergerakan anggota tubuhnya. Patah tulang ini umumnya akan terjadi pada tulang belakang, tulang panggul, dan pergelangan tangan.
            Bila patah terjadi pada tulang panggul, hampir selalu penanganannya terpaksa melalui operasi atau pembedahan. Bila tulang tidak bergeser, biasanya sambungan disangga dengan plat dan batang logam. Namun bila sambungan tulang bergeser, penggantian dengan sendi tiruan seringkali dilakukan. Semua ini memerlukan biaya pengobatan yang sangat besar. Patah tulang panggul juga bisa membuat seseorang tidak mampu berjalan tanpa bantuan dan bisa menyebabkan kecacatan permanen.
            Sementara patah pada tulang belakang juga tidak ringan akibatnya, karena bisa menyebabkan berkurangnya tinggi tubuh, rasa sakit pada tulang belakang yang parah, dan perubahan bentuk tubuh.
            Dalam keadaan normal, tulang kita senantiasa berada dalam keadaan seimbang antara proses pembentukan dan penghancuran. Fungsi penghancuran (resorpsi) yang dilaksanakan oleh osteoklas, dan fungsi pembentukan yang dijalankan oleh osteoblas senantiasa berpasangan dengan serasi. Fase yang satu akan merangsang terjadinya fase yang lain. Dengan demikian tulang senantiasa beregenerasi.
            Keseimbangan kalsium, antara yang masuk dan keluar, juga memainkan peranan penting. Bahkan faktor penentu utama untuk terjadinya osteoporosis adalah kadar kalsium yang tersisa pada tulang. Orang-orang yang sebelumnya memiliki densitas tulang yang tinggi (tulang yang padat), mungkin tidak akan sampai menderita osteoporosis. Kehilangan kalsium yang dialami tidak mencapai tingkat dimana terjadi osteoporosis.
            Lebih kurang 99% dari keseluruhan kalsium tubuh kita berada di dalam tulang dan gigi. Bila kadar kalsium darah turun dibawah normal, tubuh akan mengambilnya dari tulang untuk mengisinya lagi.
            Seiring dengan bertambahnya usia, keseimbangan sistem mulai terganggu. Tulang kehilangan kalsium lebih cepat dibanding kemampuannya untuk mengisi kembali. Alasan mengapa hal ini terjadi belum jelas. Secara umum dapat kita katakan bahwa osteoporosis terjadi saat fungsi penghancuran sel-sel tulang lebih dominan dibanding fungsi pembentukan sel-sel tulang..

ETIOLOGI
            Ada  beberapa  faktor yang dapat menyebabkan terjadinya osteoporosis al.
  • Usia
  • Genetik
  • Faktor hormonal
  • Obat-obat tertentu
  • Gaya hidup : kurang olahraga, merokok, minum minuman beralkohol, kafein.
            Kadar hormon tiroid dan paratiroid yang berlebihan dapat mengakibatkan hilangnya kalsium dalam jumlah yang lebih banyak. Obat-obat golongan steroid pun dapat mengakibatkan hilangnya kalsium dari tulang.
            Proses pembentukan dan penimbunan sel-sel tulang sampai tercapai kepadatan maksimal berjalan paling efisien sampai umur kita mencapai 30 tahun.
Semakin tua usia kita, semakin sedikit jaringan tulang yang dibuat. Padahal, di usia tersebut, jaringan tulang yang hilang semakin banyak. Penelitian memperlihatkan bahwa sesudah usia mencapai 40 tahun, kita semua akan kehilangan tulang sebesar setengah persen setiap tahunnya. Pada wanita dalam masa pascamenopause, keseimbangan kalsium menjadi negatif dengan tingkat 2 kali lipat dibanding sebelum menopause.
Faktor hormonal menjadi sebab mengapa wanita dalam masa pascamenopause mempunyai resiko lebih besar untuk menderita osteoporosis. Pada masa menopause, terjadi penurunan kadar hormon estrogen. Estrogen memang merupakan salah satu faktor terpenting dalam mencegah hilangnya kalsium tulang. Selain itu, estrogen juga merangsang aktivitas osteoblas serta menghambat kerja hormon paratiroid dalam merangsang osteoklas.
            Estrogen memperlambat atau bahkan menghambat hilangnya massa tulang dengan meningkatkan penyerapan kalsium dari saluran cerna. Dengan demikian, kadar kalsium darah yang normal dapat dipertahankan. Semakin tinggi kadar kalsium di dalam darah, semakin kecil kemungkinan hilangnya kalsium dari tulang (untuk menggantikan kalsium darah).
            Penurunan kadar estrogen yang terjadi pada masa pascamenopause membawa dampak pada percepatan hilangnya jaringan tulang. Resiko osteoporosis lebih meningkat lagi pada mereka yang mengalami menopause dini (pada usia kurang dari 45 tahun).
Pada pria, hormon testosteron melakukan fungsi yang serupa dalam hal membantu penyerapan kalsium. Bedanya, pria tidak pernah mencapai usia tertentu dimana testis berhenti memproduksi testosteron.. Dengan demikian, pria tidak begitu mudah mengalami osteoporosis.dibanding wanita.
            Selain estrogen, berbagai faktor yang lain juga dapat mempengaruhi derajat kecepatan hilangnya massa tulang. Salah satu hal yang utama adalah kandungan kalsium di dalam makanan kita. Masalahnya, semakin usia kita bertambah, kemampuan tubuh untuk menyerap kalsium dari makanan juga berkurang.
            Berdasarkan densitas massa tulang (pemeriksaan massa tulang dengan menggunakan alat densitometri), WHO membuat kriteria sebagai berikut :
Normal
:
Nilai T pada BMD > -1
Osteopenia
:
Nilai T pada BMD antara -1 dan -2,5
Osteoporosis
:
Nilai T pada BMD < -2,5
Osteoporosis Berat
:
Nilai T pada BMD , -2,5 dan ditemukan fraktur




CARA PENCEGAHAN
            Pencegahan adalah satu-satunya pengobatan utama. Bila tulang sudah mengalami osteoporosis, kita hanya bisa menjaganya agar tidak bertambah parah.
  1. Umum
    • Penuhi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh
    • Upayakan mencapai berat tubuh yang ideal
    • Hilangkan kebiasaan merokok, mengkonsumsi alkohol dan kafein
    • Usahakan menghindari obat-obat yang dapat meningkatkan resiko osteoporosis
    • Rajin olahraga (dokter spesialis fisioterapi dapat memberikan petunjuk mengenai latihan yang sesuai)
    • Upayakan untuk mencegah terjadinya cedera (khususnya jatuh)
  2. Farmakoterapi
    • Pemberian suplemen kalsium, magnesium dan vitamin D
    • Terapi pengganti hormonal (Hormone Replacement Therapy) bila diperlukan
    • Obat-obat pengurang nyeri dan atau obat anti inflamasi non-steroid (NSAID), seperti :
- Ibuprofen ; efek samping yang dapat timbul : mual, muntah, diare, konstipasi.
- Indomethasin ; efek sampingnya : sakit kepala, diare.
- Aspirin ; efek sampingnya : nyeri lambung, mual, diare.
    • Kalsitonon ; biasanya diberikan dalam bentuk injeksi, efek sampingnya antara lain mual dan wajah terasa panas yang dirasakan segera setelah injeksi dan biasanya hilang dengan sendirinya. Mungkin pula timbul diare, muntah dan rasa sakit pada bekas suntikan.
    • Bifosfonat (Alendronat) : jarang menimbulkan efek samping, namun bisa timbul diare, rasa sakit dan kembung pada perut, dan gangguan pada tenggorokan atau esofagus.
  1. Fisioterapi
  2. Pembedahan
            Sumber Kalsium
  • Sayur-sayuran hijau (bayam, brokoli, sawi)
  • Ikan teri kering
  • Udang kering
  • Tahu
  • Kacang-kacangan
  • Salmon, sardine
  • Susu & hasil olahannya
Fungsi Kalsium
  • Membentuk serta mempertahankan tulang dan gigi yang sehat
  • Mencegah osteoporosis
  • Membantu proses pembekuan darah dan penyembuhan luka
  • Menghantarkan signal ke dalam sel-sel saraf
  • Mengatur kontraksi otot
  • Membantu transport ion melalui membran
  • Sebagai komponen penting dalam produksi hormon dan enzim yang mengatur proses pencernaan, energi dan metabolisme lemak
Gejala Kekurangan Kalsium
  1. Gangguan pertumbuhan
  2. Tulang kurang kuat, mudah bengkok dan rapuh
  3. Kekejangan otot
BAB III
KESIMPULAN
            Dengan bertambahnya umur harapan hidup menyebabkan semakin meningkatnya prevalensi penyakit pada wanita. Menopouse merupakan faktor risiko dari osteoporosis pada wanita usia lanjut. Osteoporosis menyebabkan indiks masa tulang menjadi rendah sehingga hanya dengan trauma yang minimal tulang akan mudah patah.
            Penyabab utama osteoporosis adalah genetic, jenis kelamin defisiensi hormone, merokok, kurangnya asupan kalsium dan kurangnya olah raga.,kurangnya asupan Vitamin D, fosfor, kalium , protein, dan magnesium.
            Osteoporosis dapat dicegah dengan merubah gaya hidup dan memperbaiki pola konsumsi dan meningkatkan kegiatan olah raga.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Faktor Pengaruh Tubuh Pendek dan Kecil

Ini.. tidak tau apa ??? baca saja semoga bermanfaat...!!!

Faktor Kekurangan Yodium (GAKY)
            Kretinisme yaitu perawakan pendek akibat kurangnya hormon tiroid dalam tubuh. Hormon tiroid diproduksi oleh kelenjar tiroid (gondok) terutama sel folikel tiroid. Penyebab paling sering dari kekurangan hormon tiroid adalah akibat kurangnya bahan baku pembuat. Bahan baku terpenting untuk produksi hormon tiroid adalah yodium yang biasanya terdapat pada garam yang beryodium. Kretinisme dapat terjadi bila kekurangan berat unsur yodium terjadi selama masa kehamilan hingga tiga tahun pertama kehidupan bayi. Hormon tiroid bekerja sebagai penentu utama laju metabolik tubuh keseluruhan, pertumbuhan dan perkembangan tubuh serta fungsi saraf. Sebenarnya gangguan pertumbuhan timbul karena kadar tiroid yang rendah mempengaruhi produksi hormon pertumbuhan, hanya saja ditambah gangguan lain terutama pada susunan saraf pusat dan saraf perifer. Bila kurangnya hormon tiroid terjadi sejak janin, maka gejalanya adalah defisiensi mental (IQ rendah) disertai salah satu gejala atau keduanya yaitu:
Gangguan pendengaran (kedua telinga dan nada tinggi) dan gangguan wicara, gangguan cara berjalan (seperti orang kelimpungan) ,mata juling, cara berjalan yang khas, kurangnya massa tulang, terlambatnya perkembangan masa pubertas dll.
Cebol dan hipotiroidisme.
Bila kekurangan hormon tiroid akibat kurangnya yodium terjadi pada masa kanak-kanak atau masa pertumbuhan, maka hanya terjadi perawakan yang pendek tanpa retardasi mental. Penderita biasanya kurus dan mukanya tetap menua sesuai umur disertai cara berjalan yang khas.
Kekurangan hormon tiroid dapat menyebabkan perawakan pendek tetapi kelebihan hormon tiroid tidak menambah tinggi badan tetapi menyebabkan penyakit lain yaitu hipertiroidisme.
Terapi yang paling baik untuk kretinisme adalah pencegahan. Pencegahan dapat dilakukan dengan menkomsumsi makanan yang diberi garam beryodium atau pemberian suplemen yodium terutama pada daerah endemic kurangnya yodium. Pada kurangnya yodium yang terjadi pada masa kanak-kanak dapat diberikan terapi hormone tiroid dari luar misalnya levo-tiroksin hingga kadar tiroid stimulating hormone (TSH) normal dicapai sambil memberikan suplemen yodium untuk merangsang produksi hormon.
            Kretinisme ada bermacam-macam bentuk dan stadiumnya, seperti :
1.      Kretin Endemik
Kretini inipun terbagi dalam beberapa klasifikasi :
(a) Kretin Tipe Nervosa
Gambaran yang tipikal dari kretin nervosa adalah sbb: Retardasi mental yang sangat berat: Gangguan pendengaran dan bisu-tuli. Sindroma paresis sistem piramidalis, khususnya tungkai bawah: hipertonia, klonus, refleks plantaris. Kadang-kadang disertai sindroma ekstrapiramidalis. Sikap berdiri dan cara berjalan khas, spastik dan ataksik. Pada kasus yang sangat berat bahkan tidak mampu berdiri.
Strabismus
(b) Kretin tipe miksedematosa
Ciri-ciri klinik kretin tipe ini adalah: Retardasi mental, namun derajatnya lebih ringan dibanding kretin nervosa. Tanda-tanda hipotiroidi klinik: Tubuh sangat pendek (cebol), miksedema, kulit kering, rambut jarang, perkembangan seksual terlambat. Juga terdapat gangguan neurologik seperti spastisitas tungkai bawah, refleks plantaris, dan gangguan gaya berjalan. Kretin jenis ini banyak terdapat di Republik Demokrat Kongo (RDK) sebab di sana ada faktor lain yang mempengaruhi, yaitu defisiensi selenium dan kelebihan (overload) tiosianat.
(c) Kretin tipe campuran
Gambaran kliniknya adalah gabungan dari ke dua tipe di atas, yaitu adanya retardasi mental, gangguan neuromotorik yang jelas, disertai tanda-tanda hipotiroidi klinik. Delong dalam studi di China mendeskripsi variasi temuan kliniknya menjadi 5 bentuk sindroma yaitu tipe tipikal (khas), postur talamik, autistik, serebeler, dan hipotonik. Tipe-tipe ini menggambarkan onset yang berbeda-beda dari defisiensi I selama kehamilan, serta berat ringannya defisiensi yang terjadi.
2.      Hipotiroidism
Gangguan regulasi termal: hipotermia, sianosis perifer, ekstremitas dingin Gangguan gastrointestinal: gangguan makan, distensi abdomen, muntah, konstipasi. Gangguan neuromuskuler: hipotonia, letargi. Keterlambatan maturasi skeletal: fontanela dan sutura kranialis lebar, epifisis femoral distal tak tampak. Keterlambatan maturasi biokimiawi: ikterus. Setelah bayi berusia 3 bulan mulai tampak gambaran-gambaran kretin sporadik klasik. Suara tangisnya berat (nada rendah) dan parau, lidah membesar, hipoplasia hidung / nasoorbital, kulit kasar, kering dan dingin, hernia umbilikalis. Refleks tendon menurun, dan terlambat mencapai perkembangan sesuai umur yang diharapkan. Setelah umur 6 bulan, anak tampak '‘bodoh'’ karena retardasi mental. Pada kurun usia berikutnya, disamping pertumbuhan tinggi badan yang sangat terganggu (cebol), juga terdapat gangguan neurologik, khususnya berupa tanda-tanda disfungsi sere-beler. Misalnya timbul gangguan keseimbangan, tremor, past-pointing, disdiadokokinesis, dan disartri. Hal ini bisa dimengerti mengingat perkembangan serebelum terjadi sejak awal trimester ke 3 kehamilan sampai masa postnatal, di mana pada saat itu hormon tiroid janin gagal disekresi, padahal seharusnya sudah maksimal berfungsi sebab kontribusi hormon tiroid ibu sudah berkurang atau bahkan pada masa postnatal, tidak ada lagi.
3.      Kretin Sub-klinik
Kretin subklinik bisa dipandang sebagai bentuk ringan dari kretin endemik tipe nervosa, karena adanya defisiensi mental serta gangguan neuromotorik,walaupun dalam derajat yang lebih ringan. Dengan mempelajari aspek klinik kretin endemik yang tidak berujud gambaran klinik tunggal (nervosa, miksedematosa, dan campuran), maka bisa dimengerti kalau bentuk yang ringan (subtle) mempunyai gambaran klinik yang samar, dan cenderung tidak khas. Wang et.al mengajukan 4 kriteria, yaitu retardasi mental subklinik (IQ 50-70), defek psikomotor ringan, gangguan pendengaran subklinik, perkembangan fisik (tinggi badan) agak kurang, dan hipotiroidi kimiawi.

Faktor-faktor Lain (selain Gaky)
1.      Kekurangan Hormon Pertumbuhan
Hormon pertumbuhan manusia atau yang biasa disebut dengan HGH (Human Growth Hormon) adalah suatu hormon anabolik yang berperan sangat besar dalam pertumbuhan dan pembentukan tubuh, terutama pada masa anak-anak dan puberitas.
Growth Hormone berperan meningkatkan ukuran dan volume dari otak, rambut, otot dan organ-organ di dalam tubuh.
Kelenjar yang bertanggung jawab untuk memproduksi HGH (HUMAN GROWTH HORMONE) adalah kelenjar pituitary. Kelenjar pituitary terletak di bawah otak manusia. Ukuran dari kelenjar ini adalah sebesar kacang kedelai. Walaupun kecil, kelenjar ini merupakan raja dari seluruh kelenjar yang memproduksi hormon di tubuh manusia. Produksi dari HGH (HUMAN GROWTH HORMONE) sangat mempengaruhi produksi hormon-hormon lain di dalam tubuh.
Dwarfism (cebol) yaitu gangguan pertumbuhan akibat gangguan pada fungsi hormon pertumbuhan / growth hormone. Gejalanya berupa badan pendek, gemuk, muka dan suara imatur (tampak seperti anak kecil), pematangan tulang yang terlambat, lipolisis (proses pemecahan lemak tubuh) yang berkurang, peningkatan kolesterol total / LDL, dan hipoglikemia. Biasanya intelengensia / IQ tetap normal kecuali sering terkena serangan hipoglikemia berat yang berulang.Hormon pertumbuhan ini diproduksi oleh somatrotop (bagian dari sel asidofilik) yang ada di kelenjar hipofisis. Hormon ini merupakan hormon yang penting untuk pertumbuhan setelah kelahiran dan metabolisme normal karbohidrat, lemak, nitrogen serta mineral. Hormon ini tidak bekerja secara langsung dalam mempengaruhi pertumbuhan, tetapi melalui perantaraan suatu peptida yang disebut somatomedin (IGF I dan IGF II) yang produksinya diinduksi oleh hormonpertumbuhan. Somatomedin yang produksi utamanya di hati ini dipengaruhi juga oleh usia dan status gizi seseorang. Somatomedin inilah yang akan berikatan dengan reseptor-reseptor dalam sel tubuh guna merangsang pertumbuhan melalui:
·      Sistesis protein. Hormon pertumbuhan akan meningkatkan produksi protein dan transportasinya ke sel-sel otot sehingga merangsang pertumbuhan otot dan jaringan pada umumnya.
·      Metabolisme karbohidrat. Hormon pertumbuhan memiliki efek antagonis terhadap insulin sehingga meningkatkan kadar gula dalam darah, yang nantinya akan meningkatkan proses konversi karbohidrat menjadi protein.
·      Metabolisme lemak. Hormon pertumbuhan akan meningkatkan penguraian lemak tubuh menjadi asam lemak bebas dan gliserol sehingga kadar lemak dalam darah meningkat.
·      Metabolisme mineral. Hormon pertumbuhan meningkatkan kadar kalsium, magnesium serta fosfat sehingga merangsang pertumbuhan panjang dari tulang keras dan pertumbuhan tulang rawan terutama pada anak-anak.
·      Efek mirip prolaktin sehingga merangsang kelenjar payudara dan produksi susu saat kehamilan.
Kekurangan hormon pertumbuhan ini akan mempengaruhi pertumbuhan tulang dan otot serta mengganggu metabolisme karbohidrat, lemak dan mineral yang bermanifestasi menjadi cebol. Ada dua sebab kekurangan hormon pertumbuhan yaitu:
ü Kekurangan hormon pertumbuhan yang congenital (bawaan) yaitu karena produksinya memang kurang atau karena reseptor dalam sel yang kurang atau tidak sensitive terhadap ragsangan hormon. Biasanya gejala mulai tampak sejak bayi hingga puncaknya pada dewasa, jadi dari kecil postur tubuhnya selalu lebih kecil dari anak yang lain. Misalnya karena agenesis hipofisis atau defek /mutasi dari gen tertentu yang menyebabkan kurangnya kadar hormon seperti sindroma laron dan fenomena pada suku pygmi di Afrika.
ü  Kekurangan hormon pertumbuhan yang didapat. Biasanya gejala baru muncul pada penghujung masa kanak-kanak atau pada masa pubertas, jadi saat kecil sama dengan yang lain, namun kemudian tampak terhentinya pertumbuhan sehingga menjadi lebih pendek dari yang lain. Kadang juga disertai gejala-gejala lain akibat kurangnya hormon-hormon lain yang juga diproduksi hipofisis. Penyebab paling sering adalah tumor pada hipothalamus – kelenjar hipofisis seperti kraniofaringioma, glioma, histioma atau germinoma. Iradiasi kronis juga dapat mengurangi produksi hormon.
Terapi untuk cebol akibat kekurangan hormon pertumbuhan dapat berupa pemberian hormon pertumbuhan dari luar terutama pada produksi yang berkurang atau tumor pada hipofisis setelah tumor diatasi terlebih dahulu. Sedangkan pada reseptor yang kurang atau resisten terhadap hormon belum ada terapi yang dapat dilakukan.
2.      Faktor Keturunan
Perawakan yang lebih pendek juga paling sering disebabkan oleh masalah genetik. Sebaiknya dicari tahu riwayat keseluruhan dari keluarga seperti orangtua, saudara kandung, kakek-nenek, paman atau bibi. Apabila salah satunya ada yang memiliki perawakan pendek ada kemungkinan hal tersebut diwariskan ke si kecil.
Orangtua sebaiknya memiliki catatan riwayat tinggi dan berat badan si kecil, sehingga dokter bisa mempelajari tingkat pertumbuhan dan menentukan apakah ada yang tidak normal atau tidak.
Jika ditemukan sesuatu yang mengkhawatirkan, maka dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, pemeriksaan X-ray atau tes darah di laboratorium untuk mengetahui ada tidaknya masalah pada kelenjar hormonnya atau kromosomnya. Jika ditemukan adanya masalah hormon, maka dokter akan mengukur kemampuan dari kelenjar pituitari yang berfungsi mengeluarkan hormon pertumbuhan manusia (hGH).
Pada awalnya dokter akan memberikan suntikan obat yang dapat merangsang sistem endokrin untuk memproduksi hGH, setelah beberapa jam dokter akan mengambil sampel darah untuk menentukan apakah anak memproduksi hormon pertumbuhan secara normal atau tidak. Jika anak memiliki masalah pada hormon pertumbuhan, maka dokter ada kemungkinan untuk memberikan hormon pertumbuhan sintetis agar merangsang produksi dari hGH. Tapi sebelum diberikan perawatan, sebaiknya dokter sudah mengetahui dengan pasti apa penyebab tubuh si anak lebih pendek dari teman-temannya.
3.      Sindrom Turner
Sindrom Turner (disebut juga sindrom Ullrich-Turner, sindrom Bonnevie-Ullrich, sindrom XO, atau monosomi X) adalah suatu kelainan genetik pada wanita karena kehilangan satu kromosom X. Wanita normal memiliki kromosom seks XX dengan jumlah total kromosom sebanyak 46, namun pada penderita sindrom Turner hanya memiliki kromosom seks XO dan total kromosom 45. Hal ini terjadi karena satu kromosom hilang saat nondisjungsi atau selama gametogenesis (pembentukan gamet) atau pun pada tahap awal pembelahan zigot.
Wanita dengan sindrom Turner akan memiliki kelenjar kelamin (gonad) yang tidak berfungsi dengan baik dan dilahirkan tanpa ovari atau uterus. Apabila seorang wanita tidak memiliki ovari maka hormon estrogen tidak diproduksi dan wanita tersebut menjadi infertil. Namun, apabila seorang penderita sindrom Turner memiliki sel normal (XX) dan sel cacat (sindrom Turner/XO) di dalam tubuhnya, maka ada kemungkinan wanita tersebut fertil. Wanita dengan keadaan demikian disebut mosaikisme (mosaicism). Penderita sindrom Turner memiliki beberapa cenderung ciri fisik tertentu seperti bertubuh pendek, kehilangan lipatan kulit di sekitar leher, pembengkakan pada tangan dan kaki, wajah menyerupai anak kecil, dan dada berukuran kecil. Beberapa penyakit cenderung menyerang penderita sindrom ini, di antaranya adalah penyakit kardiovaskular, penyakit ginjal dan tiroid, kelainan rangka tulang seperti skoliosis dan osteoporosis, obesitas, serta gangguan pendengaran dan penglihatan.
Sebagian besar penderita sindrom ini tidak memiliki keterbelakangan intelektual, namun dibandingkan wanita normal, penderita memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menderita keterbelakangan intelektual. Sebagian penderita sindrom Turner memiliki kesulitan dalam menghafal, mempelajari matematika, serta kemampuan visual dan pemahaman ruangnya rendah. Perbedaan fisik dengan wanita normal juga membuat penderita sindrom Turner cenderung sulit untuk bersosialisasi.
4.      Cushing
Sindrom Cushing adalah penyakit yang disebabkan kelebihan hormon kortisol. Nama penyakit ini diambil dari Harvey Cushing, seorang ahli bedah yang pertama kali mengidentifikasikan penyakit ini pada tahun 1912.
Penyakit ini ditimbulkan ketika kelenjar adrenal pada tubuh terlalu banyak memproduksi hormon kortisol. Penyakit ini juga dapat muncul akibat seseorang terlalu banyak mengkonsumsi obat yang yang mengandung kortikosteroid, yang biasanya digunakan untuk berbagai pengobatan penyakit yang akut.
Suatu kelainan pada kelenjar hipofisa (misalnya tumor) bisa menyebabkan pembentukan kortikotropin yang berlebihan (kortikotropin adalah hormon yang mengendalikan kelenjar adrenal).
Karsinoma sel kecil di paru-paru dan tumor lainnya diluar kelenjar hipofisa juga bisa menghasilkan kortikotropin (keadaan ini disebut sindroma kortikotropin ektopik). Sindroma ini merupakan penyebab tersering dari fungsi korteks adrenal yang berlebihan.
Meskipun kadar kortikotropin rendah, kadang kelenjar adrenal menghasilkan sejumlah besar kortikosteroid. Hal ini terjadi jika suatu tumor jinak (adenoma) telah tumbuh di dalam kelenjar adrenal. Kortikosteroid merubah jumlah dan penyebaran lemak tubuh, karena itu penderita sindroma Cushing biasanya memiliki wajah yang lebar dan bulat (moon face).
Lemak yang berlebihan ditemukan di seluruh batang tubuh dan terutama di puncak punggung (buffalo hump, punuk kerbau). Jari-jari tangan, tangan dan kaki biasanya menjadi ramping. Otot kehilangan massanya, sehingga menjadi lemah. Kulit menipis, mudah memar dan jika mengalami luka akan sukar sembuh. Diatas perut terbentuk goresan keunguan yang menyerupai tanda peregangan. Lama-lama tingginya kadar kortikosteroid akan meningkatkan tekanan darah, melemahkan tulang (osteoporosis) dan mengurangi perlawanan terhadap infeksi. Resiko terjadinya batu ginjal dan diabetes meningkat dan bisa terjadi perubahan mental (misalnya depresi dan halusinasi). Penderita wanita biasanya memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur. Anak-anak mengalami pertumbuhan yang lambat dan tetap pendek. Pada beberapa penderita, kelenjar adrenal juga menghasilkan sejumlah besar steroid androgenik, sehingga terjadi peningkatan pertumbuhan rambut wajah dan tubuh, kebotakan dan peningkatan gairah seksual.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya dan hasil pemeriksaan darah (untuk mengetahui kadar kortisol).
Dalam keadaan normal, pada pagi hari kadar kortisol adalah tinggi dan kemudian menurun. Pada sindroma Cushing, kadar kortisol pada pagi hari sangat tinggi dan sesudahnya tidak menurun. Bisa juga dilakukan pengukuran kadar kortisol dalam air kemih.

DAFTAR PUSTAKA

Moore, Mary. 1997. Terapi Diet dan Nutrisi. Jakarta : Hipokrates.
Winarno, F. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : Gramedia.
Almatsier, Sunita. 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS