RSS

MP-ASI

Ini matakuliah Gizi Daur Hidup I..
Makalah ini dibuat oleh sahabat saya Dewi Rahmayani Rahman dan anggota kelompoknya tp sya yakin dia saja yang kerja yang lain nganggur.. hahahha ^_^

Semoga bermanfaat..

BAB I
PENDAHULUAN
Gizi memegang peranan penting dalam  siklus hidup manusia. Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat menyebabkan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dan dapat pula menyebabkan penurunan tingkat kecerdasan. Pada  bayi dan anak, kekurangan gizi akan menimbulkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang apabila tidak diatasi secara dini dapat berlanjut hingga dewasa. 
Usia 0-24 bulan merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat, sehingga kerap diistilahkan sebagai periode emas sekaligus periode kritis. Periode emas dapat diwujudkan apabila pada masa ini bayi dan anak memperoleh asupan gizi yang sesuai untuk tumbuh kembang optimal. Sebaliknya apabila bayi dan anak pada masa ini tidak memperoleh makanan sesuai kebutuhan  gizinya, maka periode emas akan berubah menjadi periode kritis yang akan mengganggu tumbuh kembang bayi dan anak, baik pada saat ini maupun masa selanjutnya.
Untuk mencapai tumbuh kembang optimal, di dalam Global Strategy for Infant and Young Child Feeding, WHO/UNICEF merekomendasikan empat hal penting yang harus dilakukan yaitu;  pertama memberikan air susu ibu kepada bayi segera dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir, kedua memberikan hanya air susu ibu (ASI) saja atau pemberian ASI secara eksklusif sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan, ketiga memberikan makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) sejak bayi berusia 6 bulan sampai 24 bulan, dan keempat  meneruskan pemberian ASI sampai anak berusia 24 bulan atau lebih. Rekomendasi tersebut menekankan, secara sosial budaya MP-ASI hendaknya  dibuat dari bahan pangan yang murah dan mudah diperoleh di daerah setempat (indigenous food).  
Upaya peningkatan status kesehatan dan gizi bayi/anak umur 0-24 bulan melalui perbaikan perilaku masyarakat dalam pemberian makanan merupakan bagian yangdapat dipisahkan dari upaya perbaikan gizi secara menyeluruh. Ketidaktahuan tentang cara pemberian makanan bayi dan anak, dan adanya kebiasaan yang merugikan kesehatan, secara langsung dan tidak langsung menjadi penyebab utama terjadinya masalah kurang gizi pada anak, khususnya pada umur dibawah 2 tahun (baduta).
Bertambah umur bayi bertambah pula kebutuhan gizinya. Ketika bayi memasuki usia 6 bulan ke atas, beberapa elemen nutrisi seperti karbohidrat, protein dan beberapa vitamin dan mineral yang terkandung dalam ASI  atau susu formula tidak lagi mencukupi. Sebab itu sejak usia 6 bulan, kepada bayi selain ASI  mulai diberi makanan pendamping ASI  (MP-ASI ) Agar kebutuhan gizi bayi/anak terpenuhi.  
Dalam pemberian MP-ASI  perlu diperhatikan  waktu pemberian MP-ASI  ,frekuensi porsi, pemilihan bahan makanan,  cara pembuatan dan  cara pemberiannya. Disamping itu perlu pula diperhatikan pemberian makanan  pada waktu anak sakit dan bila ibu  bekerja di luar rumah. Pemberian  MP-ASI  yang tepat diharapkan tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi, namun juga merangsang keterampilon makan dan merangsang rasa percaya diri.

BAB II

ISI



Pengertian MP-ASI 

Makanan Pendamping ASI  adalah makanan atau minuman yang mengandung gizi diberikan kepada bayi/anak untuk memenuhi kebutuhan gizinya. MP-ASI  merupakan proses transisi dari asupan yang semata berbasis susu menuju ke makanan yang semi padat.  Untuk  proses ini  juga dibutuhkan ketrampilan motorik oral. Ketrampilan motorik oral berkembang dari refleks menghisap  menjadi menelan makanan yang berbentuk bukan cairan dengan memindahkan makanan dari lidah bagian depan ke lidah bagian belakang. Pengenalan dan pemberian  MP-ASI  harus dilakukan secara bertahap baik bentuk maupun jumlahnya, sesuai dengan kemampuan pencernaan bayi/anak .Pemberian  MP-ASI  yang cukup dalam hal kualitas dan kuantitas penting untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak yang bertambah pesat pada periode ini.

Jenis Makanan Tambahan

a.       Makanan Tambahan Lokal

Makanan tambahan lokal adalah makanan yang diolah di Posyandu, rumah tangga, terbuat dari bahan makanan yang tersdia didaerah setempat, mudah diperoleh degan harga terjangkau oleh masyarakat, dan memerlukan pengolahan sebelum dikonsumsi oleh bayi. Makanan tambahan lokal ini disebut juga MP ASI Lokal. (Depkes, RI 2006).

b.      Makanan Tambahan Olahan Pabrik

Makanan tambahan hasil olahan pabrik adalah makanan yang disediakan dengan olahan dan bersifat instan dan beredar di pasaran untuk menambah energi dan zat-zat gizi esensial pada bayi. (Depkes, RI 2006). Makanan tambahan pabrikan disebut juga MP ASI Pabrikan atau makanan komersial. Secara komersial makanan bayi tersedia dalam bentuk campuran instan atau biskuit yang dapat langsung dimakan secara langsung atau dapat dijadikan bubur. (Wiryo, 2002).

Mengapa Perkenalan Makanan Pendamping ASI Harus Dimulai Pada Usia 6 Bulan?

 Penundaan pemberian makanan padat sampai bayi berusia 6 bulan berlaku bagi yang mendapatkan ASI, ASI eksklusif dan juga susu formula.

1. ASI adalah satu-satunya makanan dan minuman yang dibutuhkan oleh bayi hingga ia berusia enam bulan

ASI adalah makan bernutrisi dan berenergi tinggi, yang mudah untuk dicerna.  ASI memiliki kandungan yang dapat membantu menyerapan nutrisi.  Pada bulan-bulan awal, saat bayi dalam kondisi yang paling rentan, ASI eksklusif membantu melindunginya bayi dari diare, sudden infant death syndrome/SIDS - sindrom kematian tiba-tiba pada bayi, infeksi telinga dan penyakit infeksi lain yang biasa terjadi.

Riset medis mengatakan bahwa ASI eksklusif membuat bayi berkembang dengan baik pada 6 bulan pertama bahkan pada usia lebih dari 6 bulan.  Organisasi Kesehatan Dunia – WHO mengatakan: “ASI adalah suatu cara yang tidak tertandingi oleh apapun dalam menyediakan makanan ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang bayi.Evaluasi pada bukti-bukti yang telah ada menunjukkan bahwa pada tingkat populasi dasar, pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan adalah cara yang paling optimal dalam pemberian makan kepada bayi. ” 

Setelah 6 bulan, biasanya bayi membutuhkan lebih banyak zat besi dan seng daripada yang tersedia didalam ASI – pada titik inilah, nutrisi tambahan bisa diperoleh dari sedikit porsi makanan padat.  Bayi-bayi tertentu bisa minum ASI hingga usia 12 bulan atau lebih – selama bayi anda terus menambah berat dan tumbuh sebagaimana mestinya, berarti ASI anda bisa memenuhi kebutuhannya dengan baik.

2. Menunda pemberian makanan padat memberikan perlindungan yang lebih baik pada bayi terhadap berbagai penyakit


 Meskipun bayi terus menerima imunitas melalui ASI selama mereka terus disusui, kekebalan paling besar diterima bayi saat dia diberikan ASI eksklusif.  ASI memiliki kandungan 50+ faktor imunitas yang sudah dikenal, dan mungkin lebih banyak lagi yang masih tidak diketahui.  Satu studi memperlihatkan bayi yang diberikan ASI eksklusif selama  4 bulan+ mengalami infeksi telinga 40% lebih sedikit daripada bayi yang diberi ASI ditambah makanan tambahan lain.  Probabilitas terjadinya penyakit pernapasan selama masa kanak-kanak secara signifikan berkurang bila bayi diberikan ASI eksklusif setidaknya selama 15 minggu dan makanan pada tidak diberikan selama periode ini. Lebih banyak lagi studi yang juga mengaitkan tingkat eksklusivitas ASI dengan meningkatnya kesehatan (lihat faktor imunitas pada susu manusia dan Resiko pemberian makanan instan).

3. Menunda pemberian makanan padat memberikan kesempatan pada sistem penernaan bayi untuk berkembang menjadi lebih matang


 Biasanya bayi siap untuk makan makanan padat, baik secara pertumbuhan maupun secara psikologis, pada usia 6 – 9 bulan.  Bila makanan padat sudah mulai diberikan sebelum sistem pencernaan bayi siap untuk menerimanya, maka makanan tersebut tidak dapat dicerna dengan baik dan dapat menyebabkan reaksi yang tidak menyenangkan (gangguan pencernaan, timbulnya gas, konstipasi dll). Tubuh bayi belum memiliki protein pencernaan yang lengkap. Asam lambung dan pepsin dibuang pada saat kelahiran dan baru dalam 3 sampai 4 bulan terakhir jumlahnya meningkat mendekati jumlah untuk orang dewasa. Amilase, enzim yang diproduksi oleh pankreas belum mencapai jumlah yang cukup untuk mencernakan makanan kasar sampai usia sekitar 6 bulan.  Dan enzim pencerna karbohidrat seperti maltase, isomaltase dan sukrase belum mencapai level oranga dewasa sebelum 7 bulan.  Bayi juga memiliki jumlah lipase dan bile salts dalam jumlah yang sedikit, sehingga pencernaan lemak belum mencapai level orang dewasa sebelum usia 6-9 bulan.

4. Menunda pemberian makanan padat memberikan kesempatan pada bayi agar sistem yang dibutuhkan untuk mencerna makanan padat dapat berkembang dengan baik


 Tanda-tanda yang menunjukkan bahwa bayi sudah siap untuk menerima makanan padat termasuk:

1. Bayi dapat duduk dengan baik tanpa dibantu.

2. Reflek lidah bayi sudah hilang dan tidak secara otomatis mendorong makanan padat keluar dari mulutnya dengan lidah.

3. Bayi sudah siap dan mau mengunyah.

4. Bayi sudah bisa “menjumput”, dimana dia bisa memegang makanan atau benda lainnya dengan jempol dan telunjuknya.  Menggunakan jari dan menggosokkan makanan ke telapak tangan tidak bisa menggantikan gerakan “menjumput”.

5. Bayi kelihatan bersemangat untuk ikut serta pada saat makan dan mungkin akan mencoba untuk meraih makanan dan memasukkannya ke dalam mulut.

Sering kali kita mengatakan bahwa salah satu tanda bahwa bayi sudah siap untuk menerima makanan padat adalah bila bayi terus menerus ingin menyusu (kelihatan tidak puas setelah diberikan ASI/susu)-walaupun dia tidak sedang dalam keadaan sakit, akan tumbuh gigi , mengalami perubahan rutinitas atau mengalami pertumbuhan yang tiba-tiba.  Meskipun demikian, sulit untuk menentukan apakah peningkatan kebutuhan untuk menyusui itu berhubungan dengan kesiapan bayi untuk menerima makanan padat. 

Banyak (bahkan sebagian besar) bayi usia 6 bulan yang mengalami pertumbuhan yang tiba-tiba, tumbuh gigi dan mengalami berbagai perkembangan – dalam satu waktu, yang pada akhirnya bisa menyebabkan meningkatnya kebutuhan untuk menyusui. Yakinkan bahwa anda melihat semua tanda-tanda kesiapan untuk menerima makanan padat sebagai suatu kesatuan, karena bila bayi hanya menunjukkan meningkatnya kebutuhan untuk menyusui, itu bukanlah tanda kesiapannya untuk menerima makanan padat.

5. Menunda pemberian makanan padat mengurangi resiko alergi makanan


 Berbagai catatan menunjukkan bahwa memperpanjang pemberian ASI eksklusif mengakibatkan rendahnya angka insiden terjadinya alergi makanan (lihat Referensi alergi dan Resiko Pemberian Makanan Instan). Sejak lahir sampai usia antara empat sampai enam bulan, bayi memiliki apa yang biasa disebut sebagai “usus yang terbuka”.  Ini berarti bahwa jarak yang ada di antara sel-sel pada usus kecil akan membuat  makromolekul yang utuh, termasuk protein dan bakteri patogen, dapat masuk ke dalam aliran darah. 

Hal ini menguntungkan bagi bayi yang mendapatkan ASI karena zat antibodi yang terdapat di dalam ASI dapat masuk langsung melalui aliran darah bayi, tetapi hal ini juga berarti bahwa protein-protein lain dari makanan selain ASI (yang mungkin dapat menyebabkan bayi menderita alergi) dan bakteri patogen yang bisa menyebabkan berbagai penyakit bisa masuk juga. 

Dalam 4-6 bulan pertama usia bayi, saat usus masih “terbuka”, antibodi (slgA) dari ASI melapisi organ pencernaan bayi dan menyediakan kekebalan pasif, mengurangi terjadinya penyakit dan reaksi alergi sebelum penutupan usus terjadi.  Bayi mulai memproduksi antibodi sendiri pada usia sekitar 6 bulan, dan penutupan usus biasanya terjadi pada saat yang sama.

Syarat Pemberian Makanan Pendamping ASI

Makanan tambahan untuk bayi harus mempunyai sifat fisik yang baik, yaitu rupa dan aroma yang layak. Selain itu, dilihat dari segi kepraktisan, makanan bayi sebaiknya mudah disiapkan dengan waktu pengolahan yang singkat. Makanan Pendamping ASI harus memenuhi persyaratan khusus tentang jumlah zat-zat gizi yang  diperlukan bayi seperti protein, energi, lemak, vitamin, mineral dan zat-zat tambahan lainnya.

 Menurut Muchtadi (2004) hal-  hal penting yang harus diperhatikan  dalam pemberian makanan tambahan pada bayi adalah sebagai berikut :

a.    Makanan bayi (termasuk ASI) harus mengandung semua zat gizi yang diperlukan bayi.

b.    Makanan tambahan harus kepada bayi yang telah berumur 6 bulan sebanyak 4-6 kali/hari.

c.    Sebelum berumur 2 tahun bayi belum dapat mengkonsumsi makanan orang dewasa.

d.   Makanan campuran ganda (multi mix) yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, dan sumber vitamin lebih cocok bagi bayi, baik ditinjau dari nilai gizinya maupun sifat fisik makanan tersebut.

e.    Makanan harus diolah dari bahan makanan yang bersih dan aman. Harus dijaga keamanan terhadap kontaminasi dari organ biologi berbahaya seperti kuman, virus, parasit dan zat kimia, racun yang berbahaya, mulai dari persiapan bahan makanan, pengolahan, penyimpanan, distribusi sampai dengan penyajian.

f.     Bahan lainnya dapat ditambahkan untuk mempertahankan konsistensi dan rasa makanan asal tidak mengandung zat berbahaya, misalnya gula, garam, cokelat dan lainnya.

Berdasarkan uraian diatas, makanan tambahan bayi sebaiknya memiliki beberapa kriteria sebagai berikut :

1.  Memiliki nilai energi dan kandungan protein yang tinggi.

2. Memiliki nilai suplementasi yang baik serta mengandung vitamin dan mineral yang cocok.

3.  Dapat diterima oleh alat pencernaan yang baik.

4.  Harganya relatife murah

5.  Sebaiknya dapat diproduksi dari bahan-bahan yang tersedia secara lokal.

6.  Bersifat padat gizi.

7. Kandungan serat kasar atau bahan lain yang sukar dicerna dalam jumlah sedikit kandungan serat kasar yang terlalu  banyak justru akamengganggu pencernaan bayi (Jahari, 2000)

Berikut ini beberapa zat gizi yang harus terkandung dalam Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) untuk bayi:

Tabel 1 Nilai Gizi  MP-ASI ( dalam 100 gr bahan makanan )

Zat Gizi
Unit
Jumlah
Energi
kcal
› 400
Protein
gr
› 15
Lemak
gr
› 6
Serat
gr
‹ 5
Vitamin A
iu
1664
Vitamin C
mg
48
Vitamin B12
µg
1,2
Tiamin
mg
0,128
Riboflavin
mg
0,488
Niasin
mg
4,8
Asam Folat
µg
60
Vitamin E
mg
5
Vitamin D
µg
10
Fe
mg
8
Ca
mg
200
Zn
mg
4

Sumber: Dep Kes RI, 2004

Jenis Makanan Pendamping ASI dan waktu pemberiannya

  Pengenalan dan pemberian MP-ASI harus dilakukan secara bertahap baik bentuk maupun jumlahnya yang disesuaikan dengan kemampuan pencernaan bayi dan anak. Tahapan tersebut adalah :

1.  Makanan bayi berumur 0-4 bulan

a.  Hanya ASI saja (ASI Eksklusif)

b. Hisapan bayi akan merangsang produksi ASI terutama pada 30 menit pertama setelah melahirkan.

c.  Dengan menyusui akan terbina hubungan kasih saying antara ibu dan anak

d. Berikan kolostrum, karena mengandung zat-zat gizi dan zat kekebalan yang dibutuhkan bayi.

e.  Berikan ASI sesering mungkin sesuai keinginan bayi.

2.  Makanan bayi berumur 4-6 bulan

a.  Pemberian ASI tetap diteruskan sesuai keinginan anak.

b.  Bentuk makanan lumat, halus, aktivitas bayi sudah mempunyai reflex mengunyah

c. Contoh makanan lumat antara lain psang yang dilumatkan, papaya yang dilumatkan, biscuit yang ditambahkan air susu, bubur susu.

d. Diberikan 2 kali sehari, setiap kali pemberian 2 sendok makan sedikit demi sedikit.

e. Diberikan sambil mengajak bicara  kepada bayi untuk menimbulkan sentuhan kasih sayang.

f.  Jangan sekali-kali MP-ASI diberikan dengan dot sambil tiduran karena dapat menyebabkan infeksi telinga.

3.  Makanan bayi berumur 6-9 bulan

a.  Pemberian ASI tetap diteruskan

b.  Bentuk makanan lumat karena alat cerna bayi sudah lebih berfungsi, contoh : nasi tim, bubur susu.

c.  Berikan 2 kali sehari setelah diberikan ASI.

d.  Porsi tiap pemberian sebagai berikut :

·      Pada umur 6 bulan : 6 sendok makan

·      Pada umur 7 bulan : 7 sendok makan

·      Pada umur 8 bulan : 8 sendok makan

·      Pada umur 9 bulan : 9 sendok makan

·      Untuk menambah nilai gizi, nasi tim dapat ditambah sumber zat lemak sedikit demi sedikit, seperti santan, margarine, minyak kelapa.

·      Bila bayi masih lapar, ibu dapat menambahnya.

4.  Makanan bayi umur 9-12 bulan

a.    Pemberian ASI tetap diberikan 

b.    Pada umur ini bayi diperkenalkan dengan makanan keluarga secara bertahap dengan takaran yang cukup.

c.     Bentuk makanan lunak.

d.   Berikan makanan selingan satu kali sehari.

e.    Makanan selingan usahakan bernilai tinggi seperti bubur kacang hijau, bubur sumsum.

f.     Biasakan mencampurkan berbagai lauk pauk dan sayuran kedalam

makanan lunak secara berganti-ganti. Pengenalan berbagai bahan makanan sejak dini berpengaruh baik dalam kebiasaan makan.

5.  Makanan bayi umur 12-24 bulan :

a.    Frekuensi pemberian ASI dikurangi sedikit demi sedikit.

b.    Susunan makanan terdiri dari makanan pokok lauk-pauk sayuran dan buah.

c.    Besar porsi adalah separuh dari makanan orang dewasa.

d.   Gunakan angka ragam bahan makanan setiap harinya.

e.    Diberikan sekurang-kurangnya tiga kali sehari.

f.     Berikan makanan selingan dua kali sehari.

g.    Anak dilatih untuk makan dan cuci tangan sendiri.

h.    Biasakan anak mencuci tangannya sebelum dan sesudah makan.

i.      Biasakan anak makan bersama-sama keluarga

Permasalahan dalam pemberian MP-ASI 

Dari hasil beberapa penelitian menyatakan bahwa keadaan kurang gizi pada bayi dan anak disebabkan karena kebiasaan pemberian MP-ASI  yang tidak tepat. Keadaan ini memerlukan penanganan tidak hanya dengan penyediaan pangan, tetapi dengan pendekatan yang lebih komunikatif sesuai dengan tingkat pendidikan dan kemampuan masyarakat. Selain itu ibu-ibu kurang menyadari bahwa setelah bayi berumur 6 bulan memerlukan MP-ASI  dalam jumlah dan mutu yang semakin bertambah, sesuai dengan pertambahan umur bayi dan kemampuan alat cernanya.

Beberapa permasalahan dalam pemberian makanan bayi/anak umur 0-24 bulan :

1.    Pemberian Makanan Pralaktal (Makanan sebelum ASI  keluar)

Makanan pralaktal adalah jenis makanan seperti air kelapa, air tajin, air teh,madu,

pisang, yang diberikan pada bayi yang baru lahir sebelum ASI  keluar. Hal ini sangat berbahaya bagi kesehatan bayi, dan mengganggu keberhasilan menyusui.

2.    Kolostrum dibuang

Kolostrum adalah ASI  yang keluar pada hari-hari pertama, kental dan berwarna kekuning-kuningan. Masih banyak ibu-ibu yang tidak memberikan kolostrum kepada  bayinya. Kolostrum mengandung zat kekebalan yang dapat melindungi bayi dari penyakit dan mengandung zat gizi tinggi.  Oleh karena itu kolostrum jangan dibuang.

3.    Pemberian MP-ASI  terlalu dini atau terlambat

Pemberian MP-ASI  yang terlalu dini (sebelum bayi berumur 6 bulan) menurunkan konsumsi ASI  dan gangguan pencernaan/diare. Kalau pemberian MP-ASI  terlambat bayi sudah lewat usia 6 bulan dapat menyebabkan hambatan pertumbuhan anak.

4.  MP-ASI  yang diberikan tidak cukup

Pemberian MP-ASI  pada periode umur 6-24 bulan sering tidak tepat dan tidak cukup baik kualitas maupun kuantitasnya. Adanya kepercayaan bahwa anak tidak boleh makan ikan dan kebiasaan tidak menggunakan santan atau minyak pada makanan anak, dapat menyebabkan anak menderita kurang gizi terutama energi dan protein serta beberapa vitamin penting yang larut dalam lemak.  

5.  Pemberian MP-ASI  sebelum ASI 

Pada usia 6 bulan, pemberian ASI  yang dilakukan  sesudah MP-ASI  dapat menyebabkan ASI  kurang dikonsumsi. Pada periode ini zat-zat yang diperlukan bayi terutama diperoleh dari ASI . Dengan memberikan MP-ASI  terlebih dahulu berarti kemampuan bayi untuk mengkonsumsi ASI  berkurang, yang berakibat menurunnya produksi ASI . Hal ini dapat berakibat anak menderita kurang gizi. Seharusnya ASI  diberikan dahulu baru  MP-ASI .

6.  Frekuensi pemberian MP-ASI  kurang

Frekuensi pemberian MP-ASI  dalam sehari kurang akan berakibat kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi.

7.  Pemberian ASI  terhenti karena ibu kembali bekerja

Di daerah kota dan semi perkotaan, ada kecenderungan rendahnya frekuensi menyusui dan ASI  dihentikan terlalu dini pada ibu-ibu yang bekerja karena kurangnya pemahaman tentang manajemen laktasi  pada ibu bekerja. Hal ini menyebabkan konsumsi zat gizi rendah apalagi kalau pemberian MP-ASI  pada anak kurang

diperhatikan.

8.  Kebersihan kurang

Pada umumnya ibu kurang menjaga kebersihan terutama pada saat menyediakan dan memberikan makanan pada anak. Masih banyak ibu yang menyuapi anak dengan tangan, menyimpan makanan matang tanpa tutup makanan/tudung saji dan kurang mengamati perilaku kebersihan dari pengasuh anaknya.  Hal ini memungkinkan timbulnya penyakit infeksi seperti diare (mencret) dan lain-lain.

 9.  Prioritas gizi yang  salah pada keluarga  

Banyak keluarga yang memprioritaskan makanan untuk anggota keluarga yang lebih besar, seperti ayah atau kakak tertua dibandingkan untuk anak baduta dan bila makan bersama-sama anak baduta selalu kalah.  

Penyusunan Menu Untuk Balita

Menyusun menu untuk balita ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, agar menu tersusun dengan baik sesuai dengan persyaratan makanan bagi balita. Penyusunan menu balita berdasarkan kepada persyaratan pengaturan makanan bagi balita telah dijelaskan secara rinci pada Bab sebelumnya. Selain itu juga mengacu kepada kecukupan gizi bagi balita yaitu 1250 – 1750 kaoril per hari dan 23-32 gram protein, variasi penggunaan bahan makanan, dan pengenalan berbagia rasa dari makanan dan bahan makanan itu sendiri.

Penyusunan menu yang baik bagi balita akan membantu ibu dalam memulai pendidikan gizi bagi anak. Kebiasaan mengkonsumsi makanan yang seimbang sangat menentukan pola dan kebiasaan makan ketika umur mereka beranjak remaja. Bahkan jika menu seimbang sudah diterapkan sejak dini akan membantu membentuk pola makan hingga dewasa.

Jika berbagai persyaratan dalam pengaturan makanan sudah dijelaskan sebelumnya, maka sekarang kita dapat melihat contoh dari menu untuk balita yang disusun berdasarkan pola makanan sehat dan gizi seimbang.

Balita penuh dengan imajinasi. Untuk itu imajinasi mereka dcapat kita gunakan untuk meningkatkan nafsu makan balita yang sering mengalami gangguan. Bentuk dari makanan yang disajikan turut mempengaruhi selera makan pada balita. Selain itu variasi dalam warna juga menggugah selera mereka untuk mencicipi hidangan yang disajikan. Namun perlu diingat porsi untuk balita masih kecil, begitu juga denan potongan makanan yang disajikan. Selain itu makanan yang menyulitkan mereka saat makan sebaiknya dihindari, seperti ikan yang bertulang halus dan banyak. Sebaiknya menggunakan ikan yang sudah difillet dan sebagainya. Pada tabel berikut ini dapat kita lihat contoh susunan menu untuk balita perhari dengan berbagai kombinasinya.

Selain itu, penyajian menu makanan balita juga harus diperhatikan, karena dapat memengaruhi selera makan anak, baik dari penampilan, tekstur, warna, aroma, besar porsi, dan pemilihan alat makan yang menarik. Di dalam menyusun menu, jadwal makan balita juga harus diperhatikan. Penerapan jadwal makan yang teratur sangat penting.

Sebab, hal tersebut akan membuat tubuh anak mengalami penyesuaian, kapan perut harus diisi dan kapan tidak. Jika disiplin ini sudah tertanam pada diri dan ritme tubuh si anak, ketika jam makan tiba, mereka tidak akan lagi menolak makan. Sebaliknya, jika jam makan sesukanya, tidak jarang anak akan malas-malasan mengisi perutnya.

Sementara itu, membiasakan anak makan sesuai jadwal akan membuat pencernaannya lebih siap dalam mengeluarkan hormon dan enzim yang dibutuhkan untuk mencerna makanan yang masuk. Idealnya, pemberian makan balita adalah tiga kali makan utama yaitu sarapan, makan siang, dan makan malam agar mempunyai keterampilan makan balita. Lalu, ditambah dua kali makanan selingan.

Biasakan anak untuk sarapan pagi karena penting untuk persediaan energi dalam melakukan aktivitas sepanjang hari. Apabila orangtua tidak menyempatkan diri sarapan secara teratur di meja makan, jangan heran jika si anak juga enggan sarapan pagi.

Menu sarapan pagi tidak harus komplit susunan hidangannya (tidak selengkap hidangan makan siang atau malam). Porsinya pun juga lebih sedikit. Cukup dengan satu hidangan terpadu untuk menu sarapan pagi, misalnya dengan omelet sayur, mie goreng, nasi goreng, roti bakar ditambah susu atau jus buah. Hal yang perlu diingat adalah kalorinya telah memenuhi kebutuhan gizi tubuh. Selain itu, buatlah menu sarapan pagi yang praktis.

Susunan menu makan siang atau malam biasanya lengkap komposisinya. Terdiri atas makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayuran, dan buah. Hanya, untuk makan malam tidak harus ada buah. Pengaturan ini sesuai dengan triguna makanan (susunan makanan seimbang untuk tumbuh kembang balita yang harus terdiri atas tiga golongan besar bahan makanan). Besarnya porsi makanan untuk balita harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan makannya. Selain itu, perhatikan juga cara penyajiannya. Buat semenarik mungkin untuk menggugah selera makan anak.

Anak perlu makanan selingan/ di sela-sela makanan utamanya. Penting diketahui, bahwa pemberian makanan selingan adalah untuk melengkapi komposisi gizi seimbang dalam sehari yang mungkin belum terpenuhi lewat menu makanan utama. Oleh karena itu, yang ditekankan bukan kandungan kalorinya, tapi zat gizi lain seperti protein, mineral, dan vitamin. Makanan selingan ini dapat berupa kue, biskuit, atau jus buah.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

a)         Makanan Pendamping ASI  adalah makanan atau minuman yang mengandung gizi diberikan kepada bayi/anak untuk memenuhi kebutuhan gizinya.

b)        MP-ASI  merupakan proses transisi dari asupan yang semata berbasis susu menuju ke makanan yang semi padat.  Untuk  proses ini  juga dibutuhkan ketrampilan motorik oral. Ketrampilan motorik oral berkembang dari refleks menghisap  menjadi menelan makanan yang berbentuk bukan cairan dengan memindahkan makanan dari lidah bagian depan ke lidah bagian belakang.

c)         Pengenalan dan pemberian  MP-ASI  harus dilakukan secara bertahap baik bentuk maupun jumlahnya, sesuai dengan kemampuan pencernaan bayi/anak .

d)        Pemberian  MP-ASI  yang cukup dalam hal kualitas dan kuantitas penting untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak yang bertambah pesat pada periode ini.

Saran

a)         Bagi ibu yang mempunyai balita dianjurkan agar dalam memberikan makanan tambahan memperhatikan usia bayi yaitu 6 bulan dan jenis makanan yang akan diberikan mulai dari yang encer sampai ke padat secara bertahap (seperti: bubur, pisang, pepaya, nasi tim).

b)        Bagi instansi yang terkait perlu melakukan sosialisasi tentang makanan tambahan melalui penyuluhan, pendidikan kesehatan disetiap posyandu maupun langsung ke masyarakat, sehingga dapat menambah pengetahuan khususnya ibu-ibu yang mempunyai balita.

DAFTAR PUSTAKA



Jahari, A. B. 2000. Pemantauan Pertumbuhan Balita. Bogor: Puslitbang Gizi dan Makanan

Soetjaningsih. 1998. Tumbuh Kembang Anak. Surabaya: Penerbit Buku Kedokteran ECG.

Hartoyo. 2001. “Pemberian Makanan Tambahan Balita KEP di Bogor”. Media Gizi dan Keluarga , Juli, XXV (1): 11-18.

Departemen Kesehatan.  Pedoman Pemberian Makanan Pendamping ASI .  Jakarta : 2004

Dr.dr. Hananto Wiryo,SpA.  Peningkatan Gizi Bayi, Anak, Ibu Hamil dan menyusui dengan Makanan Lokal.Sagung Seto. Jakarta :2002

Rahmat. M. 2000. “Hubungan Konsumsi Energi dan Status Gizi Anak Umur 6-12 Bulan di Panti Sosial Asuhan Anak Se-DKI Jakarta dan Tangerang”. Info Pangan dan Gizi. Vol XI (1).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar